01 Januari 2009

Ekspor Sumatera Selatan Turun 24,04%

PALEMBANG (SINDO) – Realisasi ekspor Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami penurunan akibat krisis keuangan global yang sedang berlangsung.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel Eppy Mirza mengungkapkan, nilai ekspor Sumsel pada Oktober 2008 turun 24,04% dibanding Oktober 2007. Jika pada Oktober 2007 nilai ekspor Sumsel bernilai USD 270.604.198,49, pada bulan yang sama tahun ini hanya mampu terealisasi USD 205.537.817,80. “Penurunan ini memang disebabkan melemahnya pemesanan dari negara-negara importir produk Sumsel,” ujarnya kepada SINDO kemarin.

Meski pada Oktober nilai ekspor Sumsel mengalami penurunan, secara kumulatif, sejak bulan Januari hingga Oktober 2008 terjadi peningkatan nilai ekspor hingga 37,36%. Pada periode yang sama tahun lalu, nilai ekspor Sumsel sebesar USD 2.221.501.982, sementara tahun ini mencapai USD 3.051.372.904. Sementara itu, volume ekspor pada Oktober 2008 sebanyak 581.710.678,48 kg dan volume pada Januari hingga Oktober 2008 sebanyak 6.105.961.962 kg. Jumlah komoditas ekspor pada Oktober 2008 mencapai 19 jenis dengan komoditas utama karet, pulp, CPO dan produk turunannya, batu bara, udang, dan kayu lapis. "Negara tujuan ekspor utama pada Oktober 2008 mencapai 44 negara, antara lain China, Amerika Serikat, Jepang, Singapura, India dan Jerman,” katanya.

Eppy mengungkapkan, penurunan ekspor bukan hanya dialami Sumsel, tapi juga berlaku untuk daerah lain. Namun, di balik kondisi melemahnya ekspor sebagai dampak krisis keuangan global, bukan berarti pemasaran produk dalam negeri tersebut menjadi tertutup. Kondisi ini membuat produk yang seharusnya diekspor terpaksa dialihkan untuk memenuhi pasar dalam negeri. “Pasar domestik masih sangat besar. Jadi, jangan takut produk yang dihasilkan tidak bisa dipasarkan,” katanya.

Ditemui terpisah, pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) Amidi mengatakan, penurunan nilai ekspor disebabkan negara tujuan utama ekspor Sumsel merupakan negara yang terkena dampak paling serius dari krisis keuangan global. Karena itu, sudah harus ada diversifikasi tujuan ekspor. Sebab, meskipun pemerintah sudah mengumumkan akan melakukan diversifikasi, sampai saat ini belum juga dilakukan. “Langkah pemerintah untuk diversifikasi negara tujuan ekspor belum maksimal karena memang sulit diversifikasi ke negara lain, selain masih banyak hambatannya,” tutur dia. (iwan setiawan/berli zulkanedi)


Tidak ada komentar: