21 Juli 2009

Arif Minta Nomor 14

PALEMBANG (SI) –Nomor punggung 14 rupanya tidak bisa lepas dari pemain Arif Suyono. Mantan gelandang Arema Malang ini resmi menggunakan kostum dengan nomor 14 bersama Sriwijaya FC (SFC).

Nomor punggung bagi sebagian pemain sepak bola merupakan suatu prestise. Meski tidak banyak yang mempersoalkan, beberapa pemain, khususnya berlabel bintang, akan menyertakan klausul penggunaan nomor punggung tertentu sebagai salah satu syarat kepindahannya ke klub baru. Seperti halnya Arif, pemain baru yang bergabung dengan SFC. Sebelum menyetujui kesepakatan kontrak kerja dengan manajemen SFC, winger andalan Singo Edan—julukan Arema—ini meminta agar diberikan kostum dengan nomor punggung 14. Agar buruannya tidak lepas, manajemen SFC melalui Tim Lima segera meluluskan permintaan sang bintang.

Ketua Tim Lima Hendri Zainuddin menyatakan akan menegosiasikan permintaan Arif dengan pemain lama yang mengenakan nomor punggung tersebut, yakni Amirul Mukminin. Karena, pemilik nomor itu musim lalu masuk dalam daftar pemain yang dipertahankan manajemen. “Pembagian nomor punggung memang wewenang manajemen. Tapi, tergantung masukan dan permintaan pemain. Memang ada beberapa pemain baru yang kami rekrut mengharapkan mengenakan nomor punggung tertentu. Semuanya sudah kami sepakati dan bisa diatur,” tutur Hendri.

Meski demikian, Amirul menyatakan bersedia memberikan nomor punggung tersebut kepada Arif. “Kalau memang nomor punggung itu mau dipakai Arif, saya tak masalah. Kan masih ada nomor lain. Bagi saya, yang penting bisa bergabung lagi dengan SFC. Sebab, hingga saat ini belum ada bayangan bermain dengan klub lain,” tutur pemain asal Sumsel ini.

Sementara itu, setelah resmi bergabung dengan SFC, Arif tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Menurutnya, bergabung dengan klub besar seperti SFC adalah kebanggaan dan kebutuhan bagi pemain profesional. Sebab, dengan dukungan manajemen yang baik, materi pemain merata di semua lini, serta suntikan semangat dari suporter fanatik membuat kesempatan meraih gelar terbuka lebar. “Senanglah bergabung dengan SFC. Sebab, SFC salah satu klub besar di Indonesia saat ini. Mudah-mudahan kemampuan yang saya punya bisa membantu klub ini meraih prestasi lebih baik,” ucap Arif.

Mengenai permintaannya kepada manajemen SFC agar dirinya bisa mengenakan nomor punggung 14 ketika membela SFC, sambil tertawa kecil dia menjelaskan nomor tersebut merupakan nomor keberuntungannya. Dengan nomor itu dia merasa lebih pede (percaya diri) beraksi di lapangan. “Nomor itu warisan dari senior saya, I Putu Gede. Di Arema, saya pakai nomor itu dan besar harapan saya bisa mengenakan nomor punggung itu di SFC,” tandas pemain yang kerap dipanggil Keceng ini.

Mengenai jadwal kedatangannya ke Palembang, Arif mengatakan sekitar tanggal 1 Agustus mendatang. Sebab, dia harus bersiap-siap untuk pindah ke Palembang bersama sang istri tercinta Laily Maziyah. (iwan setiawan)

20 Juli 2009

Arif Resmi, Bepe Menyusul

PALEMBANG (SI) – Winger Arif Suyono resmi berganti kostum dari Arema Malang menjadi Sriwijaya FC (SFC). Rencananya, beberapa pemain tim nasional Indonesia lainnya menyusul.

Strategi jemput bola manajemen tim berjuluk Laskar Wong Kito ini untuk mendapatkan tanda tangan kontrak pemain incarannya cukup efektif. Terbukti, salah satu pilar timnas yang musim lalu menjadi andalan Singo Edan–julukan Arema– bersedia membubuhkan tanda tangannya di surat kontrak kerjanya selama satu musim dengan SFC. Arif didatangkan dengan gratis alias free transfer karena kontraknya di Arema telah kedaluwarsa.

Kepastian mendaratnya Arif disampaikan Ketua Tim Lima Hendri Zainuddin. Menurut pria yang juga Direktur Teknik PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) ini, dia telah bertemu langsung Arif untuk melakukan penandatanganan kesepakatan kontrak kerja kemarin siang. Sebab, memang pembicaraan sebelumnya baik dengan sang pemain maupun klub lamanya Arema tidak ada persoalan. Maka itu, pertemuan kemarin berakhir dengan penandatanganan kontrak kerja. ’’Benar, Arif sudah sepakat bermain untuk SFC musim 2009-2010. Kesepakatannya sudah beres,” ujar Hendri.

Bahkan, sebagai salah satu bukti keseriusan Arif bergabung dengan SFC, dia meminta agar tetap mengenakan nomor punggung 14 yang selama ini selalu dia kenakan di Arema. Mengenai hal itu, Hendri akan menegosiasikan permintaan Arif dengan pemain lama yang mengenakan nomor punggung tersebut. ’’Selain permintaan nomor punggung, tidak ada masalah lain. Arif tengah mempersiapkan segala sesuatunya untuk pindah ke Palembang dalam waktu dekat. Mudah-mudahan dalam satu pekan ini Arif sudah bisa bergabung dengan skuad SFC lain,” tutur Hendri.

Hendri menyebutkan, meski baru bersedia memublikasikan keberhasilan mendapatkan satu incarannya, Tim Lima yakin beberapa target pemain bintang lain, seperti Bambang ’Bepe’ Pamungkas, Erol FX Iba, Tema Mursadat, Ahmad Kurniawan, Hariono segera menandatangani kontrak kerja bersama SFC. ’’Dari pemainnya sudah menyatakan siap menandatangani kontrak. Tapi, ada di antara mereka yang belum bersedia dipublikasikan karena tidak ingin klub lamanya tahu dan berujung tidak dibayarkannya sisa gaji mereka,” tandasnya.

’’Meski itu bukan urusan kami, tapi kami hormati permintaan itu dan memberi tenggang waktu buat pemain itu menyelesaikan persoalan dengan klub lamanya,” lanjutnya.

Sementara itu, Pelatih SFC Rahmad Darmawan menyerahkan sepenuhnya proses rekrutmen pemain kepada manajemen. Yang terpenting, menurut pelatih yang disapa RD ini, sebisa mungkin para pemain SFC musim 2009-2010 sudah berkumpul di Palembang sebelum latihan perdana dimulai 3 Agustus mendatang. ’’Meski kelihatannya pada latihan perdana nanti skuad SFC belum lengkap, latihan harus tetap digelar. Mengenai proses rekrutmen pemain, itu wewenang penuh pihak manajemen,” tandas RD. (iwan setiawan)

12 Juli 2009

Berharap Sumsel Miliki Kebun Binatang Representatif

WAWANCARA KHUSUS DENGAN PENELITI PPLH UNSRI DR INDRA YUSTIAN MSI

Belum dimilikinya kebun binatang atau taman satwa yang representatif di Sumatera Selatan (Sumsel), membuat miris para pemerhati konservasi satwa liar. Pasalnya, banyak hewan liar yang tertangkap atau sengaja ditangkap oleh masyarakat dan berakhir pada terbunuhnya hewan tersebut.

Akibatnya, spesies hewan tersebut bisa terancam punah hingga menyebabkan kerugian besar bagi generasi selanjutnya. Berikut wawancara wartawan Seputar Indonesia Iwan Setiawan dengan pemerhati konservasi satwa liar dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Sriwijaya (Unsri) Dr Indra Yustian MSi seputar persoalan konservasi satwa liar di Sumsel.

Apa yang menarik dari ilmu biologi konservasi sehingga Anda memutuskan untuk mendalaminya?


Sesuai dengan latar belakang pendidikan saya yang menyerempet biologi konservasi. Sebetulnya, yang saya pelajari itu lebih kepada tarsius, terutama mengenai ekologi dan konservasinya. Tapi, tarsius kan hanya salah satu tools yang arahnya ke manajemen konservasi. Sebab, selama ini masih terdapat kerancuan, mana yang harus dikonservasi, hutan itu sendiri atau spesies di dalamnya. Jadi, ada keinginan untuk meluruskan pemahaman mengenai konservasi yang belum sesuai itu.

Menurut penilaian Anda, bagaimana jalannya konservasi satwa liar di Sumsel?


Sebenarnya, kita punya Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Tapi, di satu sisi, perannya juga berbenturan dengan instansi lain, baik di level lebih tinggi maupun pada level yang sama. Sehingga kewenangannya menjadi sangat terbatas dan hati-hati. Sedangkan secara per individu, saya menilai masih sangat rendah. Sebab, masih banyak pihak yang tidak peduli dengan upaya konservasi, baik masyarakat biasa maupun pejabat dan para elit. Contoh kecil saja, ketika ada pemilihan kepala daerah, belum ada satu pun kandidat yang berani mencanangkan isu-isu lingkungan dalam visi misinya selama masa kampanye. Mereka lebih mengedepankan isu sosial kemasyarakatan. Padahal, persoalan lingkungan juga tidak kalah penting untuk diangkat.

Apakah rendahnya kepedulian itu terkait dengan pengetahuan dan kemampuan yang minim?


Tidak juga. Sebenarnya yang paling paham lingkungan Sumsel, ya, orang Sumsel sendiri. Tapi, memang perlu adanya peningkatan kualitas dari institusi yang memiliki kewenangan konservasi tersebut, sehingga mereka mendapat kepercayaan dari instansi di atasnya serta disegani instansi di level yang sama. Salah satu upaya adalah dengan mulai merekrut sarjana manajemen konservasi. Sebab, sebagai balai konservasi, BKSDA harus lebih profesional menjalankan perannya dengan diisi individu yang berkompeten.

Bagaimana Anda melihat peran pemerintah daerah dalam upaya konservasi?


Saya rasa sudah cukup baik ya. Seperti Palembang yang punya Perda Hutan Kota dan Ruang Terbuka Publik. Namun, ya, itu tadi, karena ada konflik kepentingan dengan instansi di level atas, maka daerah tidak berani menyinggung aset pemerintah pusat yang ada di daerah itu. Padahal, pemerintah pusat sendiri tidak terlalu intens memperhatikan asetnya yang ada di daerah. Sebagai contoh, di Palembang, ya, taman wisata alam (TWA) Punti Kayu. Pemkot Palembang tidak bisa memanfaatkan kawasan di dalam taman wisata tersebut karena masih dalam kewenangan Departemen Kehutanan. Padahal, potensi pengembangan Punti Kayu sangat besar loh untuk dijadikan area konservasi satwa liar.

Bisa dijelaskan lebih lanjut?


Prinsip dari konservasi bukanlah tidak boleh memanfaatkan area tersebut. Boleh dimanfaatkan tapi harus seimbang dengan pemeliharaan biodiversity yang ada di area tersebut. Kalau kita lihat di dalam TWA Punti Kayu beberapa tahun terakhir ini, kan ada penambahan koleksi jenis satwa yang merupakan hasil sitaan BKSDA Sumsel. Selain itu, ada pula beberapa satwa yang sengaja dititipkan atau diberikan warga untuk dirawat dan dipelihara. Dengan kata lain, TWA Punti Kayu telah menjelma menjadi taman satwa atau kebun binatang. Pada dasarnya, kebun binatang bisa menjadi objek pendidikan, sekaligus objek wisata yang bisa diandalkan. Namun, sayangnya, kondisi hewan di sana sangat memprihatinkan. Kandang-kandang hewan terlihat kotor dan kurang terawat. Bahkan, beberapa hewan, seperti halnya orang utan malah tidak memiliki kandang yang ideal.

Sebaiknya apa yang harus dilakukan pengelola taman satwa jika mereka ingin mengembangkan usaha di bidang ini?


Memang, selama ini display (kandang pantau) belum sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh objek yang dikelolanya. Pengelola juga harus berani dan mau meningkatkan pengetahuan pegawainya agar skill yang dimiliki dalam merawat hewan-hewan yang ada menjadi lebih baik. Seperti halnya pengelola TWA Punti Kayu. Saya rasa pengetahuan pegawai yang bertugas mengurusi hewan-hewan yang ada di sana juga tidak terlalu bagus, khususnya mengenai biologi hewan tersebut. Maksudnya di sini, hewan tersebut kan memiliki bawaan masing-masing seperti habitat aslinya bagaimana, makanannya apa, reproduksinya bagaimana. Nah, seharusnya jika hewan tersebut mau dikonservasi, ya, buatlah kandang yang menyerupai habitat alaminya. Meski tidak sama persis, ya, kan bisa saja diakal-akalin. Seperti kelas primata yang karakteristiknya terbiasa bergelantungan, ya, kalau tidak dari pohon, buatkan sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk bergelantungan. Hal ini juga sangat bergantung dengan pengetahuan pegawai yang mengurus hewan tersebut.

Harapan Anda mengenai konservasi satwa liar di Sumsel?


Besar harapan saya, Sumsel memiliki kebun binatang yang representatif. Di mana di situ bisa ditempatkan berbagai hewan yang sebaran hidupnya ada di wilayah Sumsel. Sebab, selain untuk sarana rekreasi, kebun binatang juga dibutuhkan untuk keperluan pendidikan dan penelitian. Dengan adanya kebun binatang atau taman satwa maka masyarakat, khususnya anak-anak bisa melihat secara langsung hewan yang selama ini mungkin hanya bisa disaksikan melalui gambar di buku, majalah, atau tayangan televisi. Mereka pun bisa mendengar suara aslinya atau melihat gerakan-gerakan khas hewan tersebut. Jangan sampai karena tidak dimilikinya sarana kebun binatang atau taman satwa membuat satu spesies punah. Seperti halnya harimau Bali, yang kini hanya bisa dilihat melalui foto atau gambar. Tidak bisa dibayangkan kejadian seperti itu juga terjadi kepada harimau Sumatera atau gajah yang merupakan hewan khas yang dimiliki Sumsel. Betapa ruginya generasi muda kita nantinya.

Menurut Anda, mengapa tidak ada yang tertarik membuka kebun binatang di Sumsel?


Setahu saya sudah pernah ada ya, yaitu Kebun Binatang Sriwijaya yang sekarang kolaps. Kayaknya karena perencanaan yang kurang matang. Selain itu, pengelola KB Sriwijaya juga tidak membuka link ke asosiasi kebun binatang sehingga tidak bisa saling sharing mengenai tata kelola dan barter hewan koleksi kebun binatangnya. Selain itu juga dari berbagai pihak yang saya tanya mengenai hal ini, jawaban yang saya terima sungguh ironis. Jangankan kasih makan binatang, kasih makan orang saja masih susah. Jangankan nyekolahin binatang, nyekolahin orang aja masih susah. Jadi, apa ya, masih berbenturan dengan urusan yang dasar. (*)

BIODATA


Nama : Dr Indra Yustian MSi

Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 26 Juli 1973

Pendidikan : - S1 FMIPA Biologi Unsri
- S2 FMIPA Biologi Konservasi UI
- S3 Biologi Konservasi Universitas Goetingen Jerman

Jabatan : - Staf Peneliti PPLH Unsri
- Dosen FMIPA Biologi Unsri (S1)
- Dosen Pengelolaan Lingkungan Unsri (S2)
- Global Tarsier Forum

Istri : Fakhria Mariam

Anak : 2 Putri

14 Juni 2009

Berjanji Beri Kesempatan Pada Pemain Lokal

H HENDRI ZAINUDDIN, DIREKTUR TEKNIK DAN SDM SFC

Terlibat di dunia sepakbola memang menjadi cita-cita H Hendri Zainuddin sejak kecil. Namun, ia sama sekali tidak menyangka bisa menduduki kursi Direktur Teknik dan SDM Sriwijaya Football Club (SFC). Lantas apa saja suka duka dan pengalaman yang diraih Hendri selama menduduki jabatan tersebut?

Berikut petikan wawancara wartawan Seputar Indonesia Iwan Setiawan dengan H Hendri Zainuddin, Direktur Teknik dan SDM Sriwijaya Football Club (SFC).

Apa yang membuat anda tertarik terjun ke dunia olahraga khususnya sepakbola?

Di Indonesia ini, namanya kaum laki-laki hampir dapat dipastikan menggemari sepakbola semua. Ketika saya kecil dulu, kebetulan tempat tinggal dekat dengan Stadion Madya Bumi Sriwijaya. Sehingga kesempatan untuk melihat berbagai pertandingan yang digelar disana membuat saya semakin jatuh cinta dengan sepakbola. Apalagi, waktu itu klub asal Palembang yaitu Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) tengah berjaya di kompetisi Galatama. Ternyata, atmosfer yang timbul ketika melihat pemain idola beraksi secara langsung di lapangan, membuat keinginan mengikuti jejak mereka semakin besar. Namun, mungkin kala itu tidak terlalu serius, kesempatan jadi atlet pun melayang. Sehingga, ketika remaja beranjak dewasa, saya pun bertekad, kalaupun tidak bisa jadi pemain toh bisa menjadi pengurus agar terus terlibat dalam kegiatan klub sepakbola.

Lalu, bagaimana Anda bisa menapaki karier sejauh ini?

Awalnya juga saya tidak membayangkan bisa duduk di posisi ini. Namun sebelumnya kinerja saya bisa ditelusuri ketika masih menjadi ketua umum dan manajer PS Banyuasin. Seperti diketahui saat pertama saya pegang, klub (PS Banyuasin) berada di kasta bawah yaitu Divisi II. Namun dalam waktu singkat, berkat kerjasama dan dukungan yang baik dari seluruh pihak terkait, kini PS Banyuasin bisa menembus kompetisi Divisi Utama. Alhamdulillah dengan bekal pengalaman itu saya punya kepercayaan diri ketika diberi amanat menjadi Direktur Teknik dan SDM di Sriwijaya FC.

Selain kepercayaan diri, tentu ada kiat lain untuk menjalankan tanggung jawab?

Tentu ada. Dalam menjalankan suatu tugas kita harus banyak belajar. Pertama yaitu belajar dari pengalaman, baik diri sendiri maupun orang lain. Jujur saja, dalam menjalankan tugas saya sekarang, banyak sekali berdiskusi dan tukar pikiran dengan pengurus lama. Kedua, belajar dari fenomena yang berkembang di dunia sepakbola dalam dan luar negeri. Terakhir, belajar dari klub itu sendiri secara keseluruhan. Sebab untuk menjadi kuat dan tangguh maka kita harus tahu terlebih dahulu kelemahan yang dimiliki.

Bisa diceritakan awal Anda bergabung dengan SFC?

Ketika itu, PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) berdiri di saat SFC memiliki banyak permasalahan. Beberapa persoalan yang krusial diantaranya adalah masa transisi politis dari gubernur sebelumnya, yaitu Pak Syahrial Oesman ke gubernur baru Pak Alex Noerdin yang notabene adalah pemilik klub. Sehingga, pemain sempat bingung dengan masa depan klub ini, dan saya masih ingat betul, bahwa tugas manajemen pertama kali adalah meyakinkan pemain bahwa SFC tetap akan dilanjutkan. Selanjutnya, barulah pembenahan perlahan-lahan dilakukan sesuai bidang masing-masing. Meski saya menjabat Direktur Teknik dan SDM, namun saya tidak pernah intervensi Pak Rahmad Darmawan (Pelatih SFC), mengenai teknik dan gaya bermain para pemain. Kala itu saya hanya bertugas bagaimana menyusun komposisi pemain yang dibutuhkan tim. Dan sekali lagi, bekal pengalaman saya menangani PS Banyuasin sangat membantu dalam tugas ini.

Performa SFC sekarang dibanding SFC musim sebelumnya, dinilai banyak pihak mengalami penurunan. Menurut Anda?

Sekali lagi saya tegaskan, musim 2008-2009 ini merupakan masa transisi bagi klub ini. Jadi, memang belum banyak yang bisa dilakukan (manajemen). Ya kita biarkan dululah periode transisi ini berakhir. Barulah menghadapi musim depan, manajemen lebih serius membenahi klub ini. Bahkan, kita telah membuat daftar pemain berkelas, pemain yang memiliki motivasi tinggi, untuk ditarik ke klub. Sehingga nantinya target kita menjadikan SFC sebagai dream team bisa diwujudkan.

Selain berlabel bintang, ada syarat lain bagi pemain yang akan bergabung ke SFC?

Pertama, pemain itu menjunjung tinggi profesionalitas. Kedua, loyalitas. Ketiga, perilaku yang baik. Kenapa perilaku kita jadikan salah satu syarat, sebab kita tidak ingin memiliki pemain yang mentalnya buruk. Pemain itu disorot bukan hanya di lapangan, tapi juga di luar lapangan. Sehingga, kita harapkan pemain SFC ke depan, selain bermain apik di lapangan, juga memiliki perilaku santun di luar lapangan.

Sudah ada bayangan komposisi pemain SFC untuk musim depan?

Dari 25 pemain yang bermain musim ini, 70% akan dipertahankan. Kita juga akan merekrut dua pemain Asia, selain tiga pemain asing di luar benua Asia. Selain itu, ada lima sampai enam pemain asli Sumatera Selatan yang akan kita rekrut. Tentunya pemain yang akan kita rekrut itu memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan tim.

Mengenai rencana merekrut pemain asli Sumsel. Apakah memang kebutuhan tim atau untuk meng-counter kritikan bahwa tim ini minim pemain asli Sumsel?

Sebenarnya Sumsel memiliki banyak talenta berbakat di sepakbola. Cuma, karena minim kompetisi sehingga bakat mereka seperti tertelan bumi. Makanya, dengan kesempatan ini mudah-mudahan talenta sepakbola asli Sumsel bisa bersaing untuk mengisi skuad SFC musim depan. Meski belum bisa menembus tim inti, paling tidak keberadaan mereka dalam tim bisa menumbuhkan kepercayaan diri mereka.

Hampir semusim Anda terlibat mengurus SFC. Apa yang bisa Anda sampaikan bagi Masyarakat Sumsel?

SFC ini merupakan milik masyarakat Sumsel dan sudah menjadi kebanggaan Sumsel. Sehingga, apapun yang terjadi dengan SFC, masyarakat ikut merasakannya. Lihat saja jika SFC menang, maka pembicaraan mulai dari warung kopi sampai kafe akan dipenuhi dengan senyum. Tapi, kalau kita kalah, kritik, cacian, hingga analisa penyebab kekalahan akan gencar terdengar dimanapun. Artinya apa, perhatian masyarakat Sumsel terhadap kiprah SFC ini sudah semakin besar loh. Bahkan, keterlibatan saya dalam kepengurusan SFC ini saya maknai sebagai ibadah. Dengan begitu, membuat senang hati masyarakat dan Insya Allah memperoleh pahala dari Allah SWT. Selain itu, ketika menerima tanggung jawab mengurus klub ini, dibutuhkan keseriusan. Oleh karena itu, dengan mengucap basmallah, kita direksi PT SOM ini maju untuk mengurus klub kebangaan masyarakat Sumsel ini.

Niat baik dan upaya pengurus masih diwarnai kritik dari sebagian masyarakat Sumsel. Bahkan, ada yang bilang manajemen PT SOM tidak becus menangani SFC?

Sekarang begini, kalau memang manajemen PT SOM tidak becus dan serius menangani SFC, maka klub ini sudah kolaps. Pengurus sudah banyak keluar uang, tenaga, dan pikiran, untuk mempertahankan eksistensi klub ini. Tugas manajemen memang itu, menjaga agar roda kehidupan klub ini tetap berputar. Sedangkan mengenai hasil pertandingan, menang atau kalah itu biasa dalam permainan. Lihat saja pertandingan Manchester United versus Barcelona dalam final Liga Champions Eropa kemarin. Siapa yang menyangka MU akan kalah. Apakah lantas suporter atau masyarakat Inggris memvonis manajemen MU tidak serius menangani tim? Kan tidak begitu. Jadi, tolong masyarakat juga harus adil dan melihat persoalan pada tempatnya. (*)

BIODATA

Nama : H Hendri Zainuddin SAg, SH

Tempat Tanggal Lahir : Palembang, 14 Desember 1973

Jabatan : Direktur Teknik dan SDM PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SFC)

Pengalaman : - Ketua Harian Perbasi Sumsel periode 2008-2011
- Manager dan Ketua Umum PS Banyuasin periode 2006-2007
- Anggota DPRD Kabupaten Banyuasin 2004-2009
- Ketua Umum Muba Hangtuah
- Direktur CV HA Anada
- Ketua Yayasan Ponpes Raudhatul Quran Payaraman Kabupaten Ogan Ilir

11 April 2009

Saksi dan Pemantau Kecele

Rekapitulasi Surat Suara dari TPS Baru Dimulai Hari Ini

PALEMBANG (SI) – Proses rekapitulasi surat suara dari tempat pemungutan suara (TPS) baru akan digelar panitia pemilihan kecamatan (PPK) hari ini. Banyak saksi dan pemantau dari partai politik yang kecele. Sebab, sejak kemarin, sudah banyak saksi maupun pemantau dari partai politik (parpol) yang berdatangan ke sekretariat PPK untuk menanyakan hasil rekapitulasi.

Mereka yang datang adalah saksi dari parpol maupun utusan caleg tertentu. Dari sekian banyak yang datang ke PPK, ada yang terang-terangan mengenakan kemeja parpol dan caleg yang mereka usung, tetapi tidak sedikit yang menutupi identitasnya. Mereka bahkan mengaku sebagai warga biasa yang hendak mengetahui hasil penghitungan pemilu legislatif, Kamis (9/4). Tetapi, karena proses rekapitulasi belum dimulai, mereka pun harus pulang dengan tangan hampa.

Seperti yang dialami Yanti, 35, kader Partai Amanat Nasional (PAN), yang ditemui SI di Sekretariat PPK Kalidoni. Dia mendatangi PPK Kalidoni untuk mengetahui perolehan suara parpol dan caleg dari partainya. Sebab, saat mendatangi PPS, dia diminta untuk menanyakan hasil rekapitulasi kepada PPK. “Kami sudah mendatangi PPS, tetapi kata petugas di sana sudah dibawa ke PPK, makanya kami kejar ke sini,” ujarnya kemarin.

Namun, ketika anggota PPK Kalidoni menjelaskan bahwa proses rekapitulasi baru akan dilaksanakan hari ini, Yanti seolah tidak percaya. Setelah dipersilakan memeriksa aktivitas di PPK, di mana belum ada proses rekapitulasi, akhirnya dia percaya. “Saya agak ngotot tadi karena sedang menjalankan tugas partai untuk memantau penghitungan dan rekapitulasi suara. Tetapi, setelah dijelaskan bahwa baru besok (hari ini) rekapitulasinya, ya, besok saja datang lagi,” ucapnya.

Kejadian serupa terpantau di beberapa PPK, seperti PPK Sako, Sematang Borang, dan Ilir Timur II. Namun, setelah dijelaskan anggota PPK bahwa proses rekapitulasi baru digelar Sabtu pagi, belasan saksi dan pemantau yang berdatangan ke sekretariat langsung pulang.

Ketua PPK Kalidoni Heriyon mengatakan, setelah seluruh kotak suara masuk ke PPK, dilanjutkan dengan melakukan rekapitulasi surat suara dari tiap TPS. Namun, karena masih ada beberapa KPPS yang belum menyelesaikan tugasnya, proses rekapitulasi menjadi terhambat. Mengenai banyaknya saksi yang berdatangan ke sekretariat PPK untuk menanti rekapitulasi, dia nilai sebagai hal yang wajar. Sebab, bagaimana pun peran pengawasan dari para saksi parpol sangat dibutuhkan dalam menjaga hasil penghitungan suara agar tetap jujur dan adil. “Hari ini (kemarin) memang belum ada rekapitulasi. Sebab, beberapa TPS belum selesai melakukan penghitungan. Sesuai rencana, malam ini (tadi malam) seluruh surat suara masuk ke PPK dan besok (hari ini) baru akan dilakukan rekapitulasi,” tuturnya.

Di sisi lain, Heriyon menyatakan, semua pihak sudah berbuat maksimal untuk menyukseskan pemilu legislatif sehingga tidak adil rasanya jika saling menyalahkan antara satu sama lain. “Hambatan yang terjadi di lapangan juga terjadi di banyak daerah, bukan hanya di sini,” tandasnya.

Karena itu, pihaknya minta diberi ruang untuk menjalankan tugas dengan baik agar hasil rekapitulasi nanti juga bisa baik dan tidak terjadi praktik kecurangan yang akan merugikan pihak-pihak tertentu. (iwan setiawan)