26 Februari 2009

Kawasan Bebas Kendaraan Dirancang

PALEMBANG (SINDO) – Pemerintah Kota Palembang sedang melakukan survei untuk menerapkan unmotorized area (kawasan bebas kendaraan bermotor), di beberapa tempat strategis di kota metropolitan ini.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang Edi Nursalam mengatakan, pihaknya tengah melakukan kajian mendalam mengenai program tersebut. Hal itu dibutuhkan karena kondisi Palembang berbeda dengan kondisi beberapa kota yang telah lebih dahulu menerapkan program ini. Dengan begitu, nantinya yang diadopsi adalah nilai-nilai positif dan cocok dengan kondisi di Palembang. “Program ini sangat positif untuk membatasi tingkat penggunaan kendaraan pribadi dan polusi udara yang semakin meningkat belakangan ini. Tapi kami akan pelajari terlebih dahulu bagaimana mekanismenya sehingga kota seperti Jakarta bisa menjalankan ini,” ujarnya kemarin.

Edi menerangkan, nantinya kawasan bebas kendaraan bermotor ini akan dibahas, apakah secara permanen atau hanya jam-jam tertentu saja. Sebab, seperti halnya yang berlaku di beberapa kota yang menerapkan program serupa, juga terdapat perbedaan mengenai sistem yang disesuaikan dengan kondisi daerahnya masing-masing.

Menurut Edi, selain penerapan kawasan bebas kendaraan bermotor, pihaknya juga tengah berpikir keras bagaimana menata lalu lintas di Palembang yang sangat ramai saat ini. Sebab, selama ini jumlah pertumbuhan kendaraan di Palembang tidak sebanding dengan penambahan jalan. Hal itu menyebabkan kendaraan yang keluar pada waktu bersamaan akan menumpuk dan memenuhi jalanan. “Cukup sulit bagi pemerintah untuk membuat jalan baru karena kondisi Kota Palembang yang sudah padat seperti sekarang. Untuk itu, kami akan melakukan reformasi transportasi, dengan harapan masyarakat akan lebih nyaman menggunakan transportasi publik dan meninggalkan kendaraan pribadinya di rumah,” katanya.

Asisten II Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang Bidang Ekonomi Pembangunan Apriadi S Busri menyampaikan dukungannya atas rencana Dishub yang akan menerapkan kawasan bebas kendaraan bermotor. Bahkan, Apriadi mengusulkan, kawasan yang diprioritaskan untuk diterapkan program tersebut adalah Plaza BKB. Sebab, kawasan itu merupakan ikon pariwisata Palembang dan ramai dikunjungi masyarakat. “Seperti yang pernah saya lihat dalam beberapa kunjungan kerja di objek pariwisata di Pulau Jawa, kendaraan gak boleh masuk, cukup disediakan tempat parkir yang berjarak 100–200 meter dari lokasi, kemudian pengunjung memasuki tempat wisata dengan berjalan kaki. Jadi benar-benar fresh suasananya,” tuturnya. (iwan setiawan)

25 Februari 2009

Sampah Bertebaran di Jalan

Petugas Dinas Kebersihan Kota Palembang mengangkut sampah yang diletakkan warga di median Jalan Ki Merogan.

PALEMBANG
(SINDO) – Di sejumlah median jalan Kota Palembang masih banyak sampah bertebaran. Kota peraih Adipura ini masih mengalami masalah klasik soal penanganan sampah.

Meski Dinas Kebersihan Kota (DKK) Palembang sudah berusaha maksimal mengangkut sampah di median Jalan Ki Merogan, Kecamatan Kertapati, tumpukan sampah masih saja terlihat di median jalan sepanjang hari. Persoalan sampah yang diletakkan di median jalan oleh masyarakat sudah berlangsung cukup lama. Namun, hingga kini sosialisasi yang dilakukan langsung pihak kecamatan agar masyarakat tidak lagi membuang sampah di median jalan belum sepenuhnya dipahami dan dijalankan masyarakat. Sebab, hingga kini tumpukan sampah rumah tangga masih bisa dijumpai di sejumlah median jalan.

Dinata, salah seorang pengemudi kendaraan angkutan sampah DKK Palembang, mengatakan, operasional angkutan sampah di wilayah Kertapati ini sudah maksimal. Pasalnya, wilayah ini dilayani hingga tiga shift angkutan, yaitu pagi antara pukul 06.30–08.00 WIB, siang 11.00–12.30, dan malam antara pukul 19.00-19.30 WIB. “Kalau daerah lain, ada yang cuma dua kali angkut, pagi dan sore. Tapi tidak numpuk seperti di sini. Kalau di sini (Kertapati), kami petugas seperti kucing-kucingan dengan warga yang buang sampah,” ujarnya ketika mengangkut sampah kemarin siang.

Dia mengharapkan agar warga di sepanjang Jalan Ki Merogan bisa menyesuaikan jadwal membuang sampah dengan jadwal lewatnya kendaraan angkutan sampah. Hal ini penting artinya agar sampah yang dibuang tidak terlihat menumpuk di median jalan. “Memang di sepanjang jalan ini belum ada kontainer sampah sehingga warga kebingungan membuang sampahnya. Tapi biar sama-sama enak, coba warga membuang sampahnya itu sebelum mobil sampah lewat, jadi semua sampah bisa terangkut,” tuturnya.

Sementara itu, Rahman, warga Jalan Ki Merogan, mengatakan, kebiasaan warga membuang sampah di median jalan disebabkan tidak dimilikinya tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Jika TPS dipasang, perlahan kebiasaan itu bisa dikikis dan hilang. “Sekarang ini warga yang ingin membuang sampah tidak tahu mau diletakkan di mana. Sebab, kalau diletakkan di depan pagar rumahnya, tidak akan terangkut mobil sampah. Karena itu, warga masyarakat menaruh sampah di median jalan biar terlihat dan lebih mudah diangkut,” katanya.

Camat Kertapati A Zaini Rivai mengatakan, pihaknya sudah berulang kali menyosialisasikan larangan meletakkan sampah di median jalan. Namun, dalam persoalan ini, warga tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena memang di sepanjang Jalan Ki Merogan belum memiliki TPS. Karena itu, warga tidak memiliki alternatif lain selain meletakkan sampah mereka di median jalan. “Hingga kini pengajuan pemasangan kontainer sampah belum juga direalisasikan DKK Palembang. Nanti saya coba koordinasikan lagi agar pemasangannya bisa lebih dipercepat sehingga masalah penumpukan sampah yang berserakan di median jalan bisa tertangani,” tandasnya. (iwan setiawan)

foto : iwan setiawan

Jembatan Keramasan Mengancam

Kondisi Jembatan Keramasan yang kerap dilewati truk dan kendaraan besar, sebagian aspalnya telah terkelupas.

PALEMBANG (SINDO) – Masyarakat berharap pengerjaan duplikasi Jembatan Keramasan di Kecamatan Kertapati segera selesai. Pasalnya, kondisi jembatan Keramasan yang ada saat ini terlihat rapuh.

Dari pantauan SINDO, tampak aspal di atas jembatan lama sudah banyak yang terkelupas. Kondisi yang paling parah dan dikhawatirkan pengendara yang melintas adalah sambungan jembatan yang sudah rusak. Bahkan, karena lapisan aspal di sambungan jembatan sudah terlepas, terbentuk lubang yang kedalamannya mencapai 10 cm. Atas kondisi tersebut, para pengendara harus memperlambat kendaraannya ketika melintas jika tidak ingin terjebak di lubang yang memanjang di tiap sambungan jembatan.

Wanto, 35, seorang pengemudi truk ekspedisi yang sering melintas di Palembang, mengatakan, kondisi jembatan di beberapa daerah di Pulau Sumatera pada umumnya kurang nyaman untuk dilintasi. “Terus terang was-was juga kalau lewat jembatan di Sumatera ini. Kalau gak berlubang, ya sambungan jembatannya itu renggang. Apalagi kendaraan kami bawa beban berat,” ujarnya kemarin.

Dihubungi terpisah, pengamat konstruksi dari Universitas Sriwijaya Bakri Umar mengatakan, sebenarnya kondisi Jembatan Keramasan masih bisa bertahan lama. Namun, kondisi itu bisa dicapai dengan perawatan yang dilakukan intensif. Sebab, sesuai bridge investigation manual, setiap jembatan harus diperiksa minimal satu kali dalam sebulan. “Disiplin tim pengawas dari instansi terkait harus lebih ditingkatkan dalam meneliti kondisi jembatan-jembatan itu. Apabila ada yang harus diganti atau diperbaiki, ya jangan ditunda lagi. Sebab, ini dampaknya bisa merugikan kepentingan masyarakat luas,” tuturnya.

Bakri menuturkan, selama ini kesadaran masyarakat dalam menjaga fasilitas umum juga dirasakannya masih sangat kurang. Terlebih, masih seringnya ditemukan baut pengikat jembatan hilang karena dicuri. (iwan setiawan)

foto : iwan setiawan

23 Februari 2009

Palembang Bank Sumsel Kembali Telan Kekalahan

Pemain Surabaya Samator melepaskan smash ke arah pemain Palembang Bank Sumsel dalam lanjutan Sampoerna Hijau Voli Proliga di Lapangan Voli Indoor Jakabaring kemarin. Tuan rumah dipaksa mengakui keunggulan tim tamu dengan skor 1-3. Dengan kemenangan ini, Surabaya Samator memantapkan diri sebagai tim yang tak terkalahkan.

PALEMBANG
(SINDO) – Raihan sempurna yang diperoleh tim Palembang Bank Sumsel kala menundukkan Jakarta P2B, Sabtu (21/2) lalu, seakan lenyap tak berbekas. Bertanding melawan tim favorit juara, Surabaya Samator, tim Palembang Bank Sumsel harus mengakui keperkasaan juara Proliga 2007 itu dengan skor akhir 1-3 (21-25, 15-25, 25-20, 14-25).

Tim asuhan Gugi Gustaman tak mampu meladeni permainan pemain-pemain Samator. Kekalahan tak dapat dihindari meski bermain di hadapan pendukung sendiri yang memadati Gedung Olahraga Dempo, Jakabaring, Palembang. Surabaya Samator yang didominasi pemain Pelatnas, langsung memimpin sejak set pertama. Meski sempat memberi perlawanan, namun smash keras dan terarah pemain Surabaya Samator yang dimotori Ngo Vanh Kieu asal Vietnam, Joni Sugiyatno, Aris Ahmad Risqon, Ayip Rizal, Didi Irwadi, dan Adam, akhirnya Palembang Bank Sumsel menyerah dengan skor 21-25.

Perubahan komposisi pemain dicoba oleh Gugi untuk mengimbangi permainan cepat yang diperagakan anak-anak Surabaya. Namun, hal itu tak banyak membantu. Pasalnya, selain gagal membendung smash dan penempatan bola yang akurat dari pemain lawan, pemain Palembang Bank Sumsel yang dimotori Devine, Win Tu Do, Samaji, Rastoni, Koko Prasetyo, dan Fredy, sering melakukan unforced error. Kondisi ini tentu sangat menguntungkan tim lawan yang tidak perlu bersusah payah mencari tambahan poin. Set kedua ini pun ditutup dengan margin yang cukup jauh 15-25.

Di awal set ketiga, Gugi menarik keluar Devine dan mencoba komposisi pemain lokal. Tempo permainan pun sedikit ditahan. Hasilnya, secara perlahan Palembang berhasil mengimbangi Surabaya. Poin demi poin dikumpulkan oleh anak-anak Palembang dan memenangkan set ketiga dengan skor 25-20.

Sejak awal set keempat, Surabaya langsung tancap gas. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit, set ini diakhiri dengan skor 14-25. Dengan kemenangan 3-1 atas Palembang Bank Sumsel ini semakin mengukuhkan Surabaya Samator sebagai tim yang belum terkalahkan pada gelaran Sampoerna Hijau Proliga 2009 hingga seri kelima di Palembang.

Ditemui seusai pertandingan, Pelatih Palembang Bank Sumsel, Gugi Gustaman mengatakan, persiapan yang telah disusun untuk menghadapi Surabaya Samator berantakan karena persoalan nonteknis. Sebelum pertandingan, manajer tim dipanggil dewan hakim pertandingan. Mereka menyatakan pemain dengan nomor punggung 6, Brian Alfianto, tidak bisa mengikuti pertandingan. Pasalnya kostum yang dikenakan Brian serupa tapi tidak sama dengan rekannya yang lain. “Pada bagian belakang kaos Brian tertulis Depati. Padahal, hari ini kaos yang digunakan tim bertuliskanPesirah. Itulah makanya dia (Brian) tidak bisa main, ya otomatis amburadul strategi yang saya susun,” tuturnya.

Meski menyesalkan kondisi ini, namun Gugi tidak bisa berbuat banyak. Mengubah strategi di tengah permainan pun percuma karena pemain pelapis Brian memang tidak disiapkannya secara khusus.

Sementara itu, Kapten Tim Surabaya Samator, Didi Irwadi merasa bersyukur dan cukup puas setelah mengalahkan Palembang Bank Sumsel, apalagi di depan publiknya sendiri. Menurut pemain nomor punggung 8 ini, pemain Surabaya Samator sangat bersemangat jika harus menghadapi tuan rumah. “Seharusnya kami bisa mengalahkan mereka dalam tiga set langsung. Tapi, karena menganggap remeh lawan, akibatnya Bank Sumsel bisa mencuri satu set,” ucapnya.

Didi mengakui, kunci kemenangan timnya karena strategi yang disusun pelatih mereka. Namun, Didi dan juga pemain lainnya tidak bisa menolak jika peran Kieu sangat penting bagi tim. “Di tiap tim pasti ada bintang. Meski demikian, semua pemain sepakat bahwa di Samator, pemain akan selalu bermain untuk kemenangan tim dan bukan untuk dirinya sendiri,” tandasnya. (iwan setiawan)

foto : isra triansyah

Pembunuh Bripda Eko Menyerahkan Diri


Edi Wahyudi, 32, tersangka penembakan Bripda Eko Yulianto, kemarin menyerahkan diri ke Mapolda Sumsel.

PALEMBANG
(SINDO) – Satu dari tiga buron perampokan di Kampung Jahe, Desa Muara Burnai II, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten OKI, Kamis (19/2) lalu, menyerahkan diri ke Unit Jatanras Polda Sumsel kemarin pagi. Tersangka Edi Wahyudi, 32, diantar seorang keluarganya yang bertugas di Detasemen Polisi Militer (Den POM) Palembang.

Sekitar pukul 09.30 WIB, dengan kawalan beberapa polisi, tersangka Edi masuk ke ruangan Kasat I Pidum Ditreskrim Polda Sumsel AKBP Imam Sachroni. Setelah buron selama tiga hari, Edi memutuskan untuk menyerahkan diri. Sebab, selama pelariannya pascaperampokan yang gagal di Kampung Jahe itu, dia selalu dihantui rasa was-was.

Edi yang hanya bisa menunduk lesu mengaku, pascaperampokan yang berujung baku tembak dengan polisi, dia dan dua rekannya, Pon dan As berlari masuk ke dalam hutan. Dia tidak tahu nasib kedua rekannya karena berpisah di tengah jalan. “Idak tau lagi pak. Kami langsung pencar pas belari dari TKP,” jawabnya lirih.

Dengan terbata-bata, Edi menceritakan, dirinya baru pertama kali menggunakan senpi untuk merampok. Senpi tersebut dibelinya dari Omen, rekannya sesama perampok seharga Rp 4 juta. Dengan uang sejumlah itu, bapak satu anak ini mengaku mendapatkan delapan butir peluru jenis FN yang tersimpan dalam sebuah magazen. Bahkan, Edi berkeras jika peluru yang menewaskan Bripda Eko Yulianto berasal dari senpi yang dipegangnya. ”Memang aku nembak waktu itu, tapi seingat aku dua letusan bae pak. Aku dak tau kalau ado yang keno. Aku jugo nembak karena takut, bukan karena sengaja (membidik polisi) nian,” tandasnya.

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol A Gofur didampingi Kasat I Pidum Ditreskrim AKBP Imam Sachroni mengatakan, pascakejadian Kamis (19/2), pihaknya mengimbau para tersangka yang masih buron untuk segera menyerahkan diri. Sebab, kata dia, polisi tidak segan memberikan tindakan tegas terhadap para tersangka yang telah mengakibatkan tewasnya Bripda Eko Yulianto, 21, dari Satuan Reskrim Kepolisian Resor (Polres) OKI. Ternyata, imbauan tersebut cukup ampuh. ”Pagi tadi tersangka Edi telah diserahkan pihak keluarga angkatnya yang kebetulan memiliki adik seorang anggota Den POM. Selanjutnya, tersangka diperiksa di Mapolda sebelum diserahkan ke Polres OKI untuk disidik,” ujar Gofur di Mapolda Sumsel kemarin.

Mengenai senpi yang diduga digunakan tersangka saat baku tembak, hingga kini belum ditemukan. Menurut Edi, senpi itu terjatuh ketika dia berusaha lari dari kepungan polisi. Berdasarkan keterangan itulah, Polda langsung berkoordinasi dengan tim Polres OKI untuk kembali menyisir lokasi di sekitar TKP baku tembak guna menemukan senpi tersebut. Penemuan senpi itu sangat penting artinya untuk bisa mengetahui peluru dari senjata mana yang menewaskan Bripda Eko Yulianto. ”Menurut pengakuannya, memang Edi mengarahkan tembakannya ke polisi. Jadi mungkin yang mengenai (Bripda Eko Yulianto), ya senjata yang bersangkutan (Edi). Makanya, kita usahakan menemukan senjatanya dulu untuk memastikan proyektil yang mengenai anggota itu,” bebernya.

Dengan adanya Edi yang menyerahkan diri ke polisi, saat ini tinggal dua tersangka lagi yang masih berstatus buron. Mereka adalah Ponimin yang saat perampokan bertugas mengawasi situasi, dan Aswin (yang sebelumnya diberitakan tewas dalam baku tembak) yang menjadi pelaku bersama Edi dan Nur. ”Salah seorang pelaku yaitu Nur, tewas di TKP. Sementara, Abas yang berperan menggambar sasaran perampokan sudah tertangkap, ditambah lagi dengan penyerahan diri Edi. Jadi, sekarang tinggal dua yang buron, yaitu Aswin dan Ponimin,” terang Gofur. (iwan setiawan)

foto : isra triansyah