11 Februari 2009

Parkir Becak SU I Semrawut

Becak yang biasa mangkal di trotoar depan Kantor Kecamatan SU I mengganggu lalu lintas di Jalan K H Wahid Hasyim

PALEMBANG
(SINDO) – Puluhan becak terparkir rapi menunggu penumpang di Jalan KH Wahid Hasyim tepatnya di depan kantor Kecamatan Seberang Ulu (SU) I. Namun sayang, para abang becak itu parkir di atas trotoar dan sebagian di antara mereka adapula yang parkir hingga di badan jalan.

Selain membahayakan diri mereka sendiri dan pengguna jalan lainnya. Aktifitas tersebut seringkali memacetkan arus lalu lintas di sekitarnya. Kondisi ini sendiri telah berlangsung sejak lama. Padahal aktifitas ini tepat berada di depan kantor camat, yang notabene ujung tombak pemerintah kota (pemkot) Palembang untuk menjaga ketentraman dan ketertiban umum.

Harun, salah seorang penarik becak yang ditemui SINDO mengaku, aksi mereka menunggu penumpang di badan jalan memang berbahaya. Namun jika tidak demikian, maka penumpang akan memilih becak yang lain. Dengan demikian penghasilan pun pasti akan turun drastis. “Kalau di sini (trotoar dan badan jalan) kan lebih deket dengan penumpang yang baru turun mobil (angkutan umum). Lagipulo kalau dak cepet-cepet biso diambek uong penumpang kito,” ujarnya memberi alasan.

Warga Kelurahan 4 Ulu itu mengatakan, sebenarnya mereka juga ingin mengantre dengan rapi. Namun karena tidak tersedianya lokasi parkir, maka mereka pun nekat antre menunggu penumpang di atas trotoar dan badan jalan. “Kami tahu ini mengganggu dan bahayo, tapi keadaannya memang begini ya mau bagaimana lagi. Zaman sekarang susah kondisinya pak, jadi harus pacak-pacak kito dewek nyari peluang,” tukasnya.

Dihubungi terpisah, Anggota Komisi I DPRD Kota Palembang Jonny Yulianto sangat menyayangkan hal ini. Menurutnya, meski pelarangan operasi becak diatur dalam Perda. Namun pemerintah masih memberikan toleransi dengan membiarkan becak beroperasi di wilayah pinggiran atau daerah yang tidak dilayani angkutan umum. Politisi PKS itu mengungkapkan, seharusnya abang becak mematuhi Perda tersebut. Sehingga becak tetap bisa beroperasi dan ketertiban umum tidak terganggu. “Kegiatan mereka parkir di trotoar dan badan jalan, jelas itu pelanggaran. Karena mengganggu kepentingan umum yang lebih luas, maka hal itu harus segera ditertibkan,” tuturnya.

Akan tetapi Jonny meminta agar pihak kecamatan sebagai ujung tombak pemkot Palembang dalam menjaga ketentraman dan ketertiban umum, lebih mengedepankan pendekatan persuasif. (iwan setiawan)

foto : isra triansyah

09 Februari 2009

Tokoh Pendidikan Sumsel Wafat

HM HATTA ISMAIL SH

PALEMBANG
(SINDO) – Sumatera Selatan kembali kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Tokoh pejuang dan pendidikan Sumsel HM Hatta Ismail SH, berpulang ke rahmatullah, Minggu 8 Februari 2009 di usia 77 tahun 6 bulan.

Mantan Rektor Universitas Tridinanti (Unanti) Palembang periode 1984-1995, itu menghembuskan nafas terakhirnya di rumah putra sulungnya Gusti Pramadya di perumahan Legenda Wisata, Cibubur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menurut keterangan Gusti, ayahnya tercinta diketahui meninggal pada pukul 06.30 WIB. Ketika itu, almarhum hendak dibangunkan dari tidur untuk mandi pagi. Namun, ketukan di pintu tidak jua membangunkan ayah enam anak itu. Karena curiga, lalu istri Gusti masuk ke kamar dan menemukan almarhum sudah meninggal dunia.

“Selesai salat subuh, ayah biasanya memang tidur lagi. Sebenarnya jam 06.00 WIB ayah sudah dibangunkan, tapi mungkin masih lelap tidurnya jadi dibiarkan. Tapi, setelah dicek jam 06.30 WIB, ayah sudah gak ada (meninggal dunia),” ujarnya ditemui SINDO di rumah duka Jalan RE Martadinata No 124, Kelurahan Sungai Buah, Kecamatan Kalidoni, Palembang.

Setelah mengurus administrasi kematian di pemerintahan setempat, jenazah Hatta Ismail diterbangkan ke Palembang sekitar pukul 16.00 WIB dari Bandara Internasional Soekarno Hatta. Di bawah payungan mendung dan hujan gerimis, sekitar pukul 17.30 WIB, mobil jenazah yang membawa jenazah almarhum pun memasuki pekarangan rumah duka yang telah dipenuhi ratusan keluarga dan handai taulan. Ketika peti jenazah diturunkan, isak tangis pun terdengar lirih bersahutan menyambut jenazah yang akan disemayamkan selama satu malam di rumah duka.

“Rencananya besok (hari ini) pagi sekitar pukul 07.00 WIB baru berangkat iring-iringan mobil jenazah ke desa Minanga Tongah OKU. Sesampainya disana jenazah akan dimakamkan di samping rumah,” katanya.

Semasa mudanya, Hatta bergabung dalam Kesatuan Batalion XVI Brigade Sumsel Kompi HS Simanjuntak. Atas pengabdiannya itu, Hatta pun dianugerahi berbagai penghargaan dari pemerintah RI, diantaranya, Bintang Gerilya, Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II, Medali Perjuangan Angkatan 45, dan Bintang LVRI. (iwan setiawan)

Tumpukan Batu Ancam Pengguna Jalan

Tumpukan batu yang akan digunakan untuk pembangunan ruko nampak memenuhi separuh badan Jalan RE Martadinata, kemarin. Tumpukan batu kali dengan ukuran besar itu mengurangi kenyamanan para pengguna jalan yang melintas.

PALEMBANG
(SINDO) – Tumpukan batu kali yang memenuhi separuh badan Jalan RE Martadinata, mengurangi kenyamanan para pengguna jalan yang melintas. Batu-batu dengan ukuran sedang dan besar itu terlihat berada di tengah jalan sejak Sabtu (7/2) malam lalu.

Sebelumnya truk pengangkut batu yang akan digunakan untuk pembangunan rumah toko (ruko) itu terbalik ketika hendak menurunkan muatannya. Tak ayal, batu yang berada di dalam truk berhamburan memenuhi badan jalan, tepatnya di kawasan RT 13 Kelurahan Sungai Buah, Kecamatan Kalidoni. “Tadi (kemarin) malam sekitar jam 21.00 WIB, mobil truknya terbalik pas nurunin batu-batu itu. Jelas bae macet, karena semalam banyak kendaraan yang lewat sini nak ke Pulau Kemaro,” ujar Harun, warga sekitar lokasi pembangunan ruko.

Menurut Harun, mobil truk yang terbalik itu baru bisa diangkat dan dibawa dari lokasi Minggu (8/2) sekitar pukul 11.00 WIB. Namun, hal itu tidak diikuti dengan menyingkirkan batu-batu yang tampaknya sengaja dibiarkan menumpuk di jalan. Kondisi ini tentu saja sangat membahayakan para pengguna jalan yang melintas. Belum lagi potensi kemacetan yang terjadi karena tumpukan batu tersebut. “Cak mano lagi nak lewat kalau setengah jalan ditumpuki batu, apalagi jalan ini dak pernah sepi (kendaraan),” tuturnya.

Dikonfirmasi SINDO mengenai hal ini, Camat Kalidoni Darminto mengaku telah mendapat informasi dari warganya. Bahkan ia langsung menginstruksikan Kasi Trantib Kecamatan Kalidoni untuk turun ke lapangan, dan mengambil langkah penyelesaian segera. Tapi, dengan alasan hari libur, maka pihak pengembang ruko tersebut tidak bisa dihubungi. “Saya sudah instruksikan Kasi Trantib untuk berkoordinasi dengan pengembang ruko agar segera menyingkirkan batu-batu yang berserakan dan menumpuk di badan jalan. Sebab hal itu sudah mengganggu kenyamanan pengguna jalan dan ketertiban umum,” tegasnya.

Darminto mengungkapkan, sebenarnya rencana pembangunan ruko di lokasi tersebut bermasalah. Selain mendapat protes dari warga di sekitar lokasi, rencana pembangunan ruko itu juga dinilai tidak sesuai dengan perizinan yang telah dikeluarkan Pemkot Palembang. “Seingat saya sudah lebih dari tiga kali saya menegur langsung pengembang ruko agar melaksanakan pembangunan sesuai perizinan. Namun teguran tersebut tidak pernah diindahkan sama sekali,” tukasnya.

Sebagai langkah tegas, sambung Darminto, besok (hari ini) pengembang ruko akan dipanggil dan akan diadakan pertemuan di Dinas Pekerjaan Umum (PU). “Tujuannya untuk meminta klarifikasi pihak pengembang atas protes warga dan beberapa kejadian yang terjadi belakangan ini di lokasi pembangunan ruko,” tutupnya. (iwan setiawan)

foto : iwan setiawan

08 Februari 2009

Puluhan Ribu Umat Padati Pulau Kemaro

Puluhan ribu umat Tri Dharma memadati Pulau Kemaro pada perayaan puncak Cap Go Meh ke-2.560 tadi malam. Umat yang datang tidak hanya dari Palembang dan berbagai kota besar di Indonesia, melainkan juga dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan China. Kegiatan ini sudah menjadi tradisi tahunan umat Tri Dharma.

PALEMBANG
(SINDO) – Kemeriahan mewarnai puncak perayaan Cap Go Meh 2560 di Pulau Kemaro tadi malam. Tepat pukul 00.00 WIB, pijaran puluhan kembang api yang ditembakkan menambah semarak langit di atas Pulau Kemaro.

Puluhan ribu umat Tri Dharma telah memadati Pulau Kemaro sejak pukul 19.00 WIB. Mereka datang secara bergelombang sejak pagi hari hingga menjelang tengah malam. Sebelum sampai pada puncak acara, dipimpin pengurus Kelenteng Hok Tjing Bio mereka melaksanakan ritual yang tidak pernah dilewatkan pada perayaan Cap Go Meh. Salah satunya adalah menyembelih seekor kambing warna hitam di depan makam Buyut Fatimah. Selanjutnya diikuti dengan penyembelihan kambing lainnya hasil sumbangan umat. Perayaan Cap Go Meh ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya tradisional China seperti barongsai, liong, dan wayang orang China.

Ketua Rohaniawan Tri Dharma se-Indonesia (Martresia) Komisariat Daerah (Komda) Sumsel Chandra Husein mengatakan, perayaan Cap Go Meh merupakan tradisi yang berasal dari leluhur masyarakat Tionghoa dalam mengakhiri masa perayaan tahun baru atau sincia pada hari ke-15 bulan pertama Imlek. Untuk perayaan di Pulau Kemaro sendiri tidak hanya dihadiri warga Tionghoa dari Palembang dan Sumsel melainkan juga dari luar daerah di sekitar Sumsel seperti Jambi, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, bahkan Jakarta. “Beberapa umat Tri Dharma dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia, dan China juga ada yang menyempatkan diri untuk merayakan Cap Go Meh di sini,” ujarnya.


Pagoda delapan tingkat yang berada di Pulau Kemaro

Ramainya pengunjung Pulau Kemaro saat puncak perayaan Cap Go Meh telah diantisipasi panitia. Chandra mengatakan, panitia sudah melakukan koordinasi kegiatan dengan pihak terkait seperti kepolisian dan Dishub Kota Palembang. Karena selain pengamanan, pengaturan arus lalu lintas menjadi sesuatu yang penting. “Mudah-mudahan semua kegiatan perayaan berjalan lancar. Karena panitia telah bekerja keras menyiapkan semuanya,” katanya.

Jimmy Lee, 23, seorang umat Tri Dharma yang ditemui SINDO mengaku, setiap tahun dia bersama keluarga dan teman-temannya pasti mengunjungi Pulau Kemaro ketika tiba saat perayaan Cap Go Meh. Menurut Jimmy, perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro selain untuk menjaga kelestarian tradisi juga diakuinya memiliki arti tersendiri. “Ada rasa yang kurang kalau tidak merayakan Cap Go Meh di Pulau Kemaro. Makanya walau kerja di luar Palembang, kita sempet-sempetin pulang,” tuturnya. (iwan setiawan)

foto : isra triansyah

Novel Keliling Sumatera Berjalan Kaki

Ahmad Novel Alatas (tengah) ketika singgah di base camp Impala Bahtera Buana Polsri kemarin.

PALEMBANG (SINDO) – Perjalanan ekspedisi Jakarta–Sumatera yang dilakukan Ahmad Novel Alatas baru mencapai Palembang, Sumatera Selatan.

Berbeda dengan ekspedisi mengelilingi Nusantara yang pernah dilakukan sebelumnya, Novel lebih memilih melakukannya dengan berjalan kaki. Memulai perjalanan yang diberinya tema “Perjuangan Menembus Batas” pada 15 Desember 2008 lalu, dia tiba di Palembang, Selasa (3/2). Bahkan, sesuai rencana yang dibuatnya, dia akan tiba di Banda Aceh pada15 April 2009. “Mudah-mudahan semuanya lancar sehingga target tidak meleset,” ucapnya singkat di zona wall climbing Impala Bahtera Buana Polsri kemarin.

Menurut Novel, ekspedisi kali ini merupakan aksi kedua setelah sebelumnya pernah melakukan aksi serupa, yaitu Jakarta–Bali pada 2006 silam. Kala itu dia menghabiskan waktu enam bulan untuk menuntaskan aksinya itu. Novel mengungkapkan, terdapat perbedaan mencolok antara kedua perjalanannya itu. Menurut dia, pemandangan alam di sepanjang Pulau Jawa lebih bervariasi dibanding Sumatera yang lebih didominasi perkebunan kelapa sawit dan karet. “Justru ini yang saya cari dan pelajari, perbedaan kultur, bahasa, ragam budaya, dan sistem sosial kemasyarakatan yang berkembang di masing-masing daerah,” tuturnya.

Pemuda asal Keramat Sentiong, Jakarta Pusat, ini menuturkan, ekspedisi yang dilakukannya ini dipandang sebagian besar masyarakat sebagai aksi yang tidak masuk akal. Dia sendiri mengakui, risiko melakukan perjalanan seorang diri terlalu tinggi. Apalagi, melintasi daerah yang belum pernah dilaluinya, bertemu orang yang tidak mau mengerti tujuan aksinya ini, belum lagi risiko bertemu hewan buas atau orang jahat yang bisa mengganggu perjalanannya. “Banyak kok halangannya. Bahkan sepanjang perjalanan dari Jakarta sampai Palembang, seingat saya sudah empat kali digangguin orang yang mau merampas barang bawaan saya. Tapi niat saya sudah bulat dan siap dengan segala risiko yang mungkin ada,” ujarnya.

Novel mengaku akan berada di Palembang selama satu pekan. Selain untuk memulihkan staminanya, istirahat di tiap kota yang disinggahinya juga untuk mengumpulkan kembali semangat dan motivasi dalam dirinya untuk melanjutkan aksinya. Sebab, ia mengakui, aksi yang dilakukannya ini tanpa sepengetahuan orang-orang terdekatnya, termasuk keluarga. Untuk itu, dia harus bisa menjaga semangat agar aksinya bisa tuntas. “Dalam aksi ini gak ada yang tau saya berangkat dari Jakarta ke Aceh, apalagi berjalan kaki. Saya gak mau apa yang saya lakukan ini disiarkan di mana-mana dan menjadi heboh. Makanya juga saya sama sekali gak ngantongin surat jalan,” bebernya. (iwan setiawan)

foto : iwan setiawan