16 Mei 2008

Warga Diimbau Bersikap Jujur

1.000 ANGGOTA MAJELIS TAKLIM GELAR DOA BERSAMA

PALEMBANG (SINDO) – Seribu anggota majelis taklim menggelar doa bersama kemarin menjelang proses pemilihan kepala daerah (Pilkada) 7 Juni 2008 mendatang.

Menurut ketua panitia Azimah, kegiatan yang dihadiri seribu undangan ini merupakan ajang rutin yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan para ibu anggota majelis taklim mengenai agama Islam. Selain itu, kegiatan juga dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan tali silaturahmi antar sesama anggota. ”Secara bergiliran, kita mengadakan tausiah dan mengundang seluruh majelis taklim di Palembang ini,” ujarnya di sela-sela acara tausiah kemarin.

Selain mendengarkan siraman rohani dari ustaz HM Nurdin Mansyur, para anggota majelis taklim melakukan tanya jawab mengenai permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu, mereka berdoa bersama untuk keamanan Kota Palembang menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) 7 Juni mendatang. "Kita sangat berharap, selama proses pilkada baik untuk Kota Palembang maupun Provinsi Sumatera Selatan bisa berjalan lancar, aman, dan tertib. Semoga juga nantinya pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang berakhlakul karimah dan tidak hanya mengumbar janji saat kampanye,” tandasnya.

Dalam ceramahnya, Ustaz HM Nurdin Mansyur menyampaikan, saat ini manusia sudah mulai mengabaikan budi luhur dan akhlak mulia. Menurut dia, pikiran manusia saat ini sudah diracuni gelimang materi yang membuat manusia lupa akan hati nuraninya. Namun pada saat pemilihan nanti, Nurdin mengharapkan masyarakat bersikap jujur dalam memilih pemimpin yang memiliki akhlak dan moral yang baik. ”Mari kita berdoa untuk Kota Palembang agar pemimpin ke depan nanti merupakan pemimpin yang benar-benar layak, berkompeten, dan perhatian dengan warganya,” tandasnya. (iwan setiawan)

14 Mei 2008

Pemerintah Bantu UKM

BUDI DAYA ANGGREK SULIT DIKEMBANGKAN

PALEMBANG (SINDO) – Ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Kota Palembang Sulastri mengatakan, usaha budi daya anggrek di Kota Palembang masih minim karena terkendala cuaca dan ketersediaan air. Dia menuturkan, saat ini di Kota Palembang terdapat sekitar 225 pengusaha anggrek yang terdiri dari 210 pedagang dan 15 pembudi daya. Dosen Fakultas Ekonomi Unsri ini menuturkan, PAI terus mendorong pedagang anggrek menjadi pembudi daya sehingga jalannya usaha tidak tergantung pada supplier.

Dia menuturkan, dengan menjalankan usaha budi daya, petani anggrek memiliki kesempatan mendapatkan bantuan permodalan dari pemerintah. “Setahu saya, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang melalui Dinas Pertanian memiliki program bantuan terhadap usaha kecil menengah, khususnya bidang pertanian. Salah satunya, usaha budi daya anggrek,” ujarnya kepada SINDO kemarin.

Sulastri mengungkapkan, bantuan yang diberikan berupa kredit lunak yang besarannya bervariasi setiap tahunnya. Sedangkan dari pengurus PAI, bantuan yang diberikan kepada para petani berupa pelatihan, berbagai event promosi, dan pameran hasil budi daya yang dimiliki pengusaha anggrek. “Kita ini kan organisasi hobi, jadi kalau memberikan bantuan finansial besar agak berat. Kita pengurus ini hanya melobi pemerintah maupun pihak lain untuk bisa menyalurkan bantuannya kepada anggota kita,” katanya.

Sementara itu, salah seorang petani anggrek yang mendapatkan bantuan pada 2007 lalu, Marjohan, mengatakan, kelompok usaha anggrek Sri Rezeki miliknya dan rekan-rekannya mendapatkan bantuan dari Dinas Pertanian Kota Palembang sebesar Rp 358 juta. Jumlah itu masih harus dibagi rata kepada 19 orang yang tergabung dalam kelompok. ”Bantuan itu untuk memperbaiki gedung, penyediaan pembibitan, dan penyediaan pendukung usaha yang lainnya,” terangnya.

Namun, diakui Marjohan, saat ini kebanyakan para pengusaha memilih untuk menjadi pedagang anggrek dibandingkan menjadi pembudi daya. (iwan setiawan)

Target Sriwijaya Fair Rp 80 M

PALEMBANG (SINDO) – Panitia Sriwijaya Fair 2008 optimistis target transaksi mencapai Rp 80 miliar tercapai.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) Abdul Shobur mengatakan, Pemprov Sumsel bekerja sama dengan sejumlah pihak/lembaga akan menggelar pameran akbar Sriwijaya Fair 2008. Dia menuturkan, pameran disiapkan sebagai agenda akbar di bidang perdagangan, investasi, dan pariwisata Sumsel. Dia menjelaskan, peserta Sriwijaya Fair 2008 akan melibatkan berbagai daerah di Indonesia dan beberapa negara sahabat dengan target transaksi minimal Rp 80 miliar. Menurut dia, hingga kemarin sudah terdaftar sebanyak 200 peserta termasuk perwakilan dari pengusaha lima negara, yaitu India, Saudi Arabia, Kanada, Malaysia, dan Rusia. “Selain ajang pameran berbagai produk unggulan masing-masing daerah, dalam acara itu juga akan diadakan temu investor, seminar, dan promosi pariwisata,” jelas Shobur kemarin.

Dia mengungkapkan, dengan ajang pameran produk unggulan ini, diharapkan posisi perekonomian Sumsel secara umum semakin kuat baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Selain itu, dengan menampilkan potensi unggulan daerah, maka kemungkinan investasi di daerah bisa semakin besar. “Kita harapkan multiplier effects dari kegiatan ini bisa bermanfaat buat masyarakat luas. Bahkan usaha kuliner untuk pengunjung dalam acara ini akan lebih banyak dibanding kegiatan serupa tahun lalu,” ungkapnya.

Project Manager Sriwijaya Fair 2008 dari EO Antheus, Milda mengatakan, hingga kemarin 200 stan yang disediakan terisi penuh. Milda menuturkan, kebanyakan peserta yang hadir membawa hasil kerajinan tangan (handycraft) unggulan dari usaha menengah kecil mikro (UMKM) binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan di daerahnya masing-masing. “Peserta pameran kali ini banyak dari UMKM di Pulau Jawa,” katanya.

Dia menambahkan, selain ajang pameran, pada 16 Mei 2008, selama satu hari akan dilaksanakan business gathering yang membahas mengenai pengembangan usaha kecil dan menengah. “Nanti para pengusaha akan berbagi pengalaman,” tandasnya. (iwan setiawan)

13 Mei 2008

Tenaga Penelitian Tak Merata

PALEMBANG (SINDO) – Penyebaran tenaga dan kualitas penelitian di Indonesia saat ini dinilai kurang merata dan didominasi para peneliti dari Pulau Jawa.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr M Ahkam Subroto mengatakan, berdasarkan proposal penelitian yang masuk ke LIPI dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir, secara kuantitas mengalami peningkatan. Namun, peningkatan kuantitas belum diiringi dengan peningkatan kualitas. Hal itu disebabkan minimnya kemauan para peneliti untuk melakukan riset di bidang ilmu dasar sehingga riset yang dilakukan lebih terfokus pada ilmu terapan. “Padahal, tanpa pengembangan ilmu dasar, sebuah penelitian tidak akan kuat. Oleh karena itu, kita mengapresiasi penelitian para profesor dan doktor yang melakukan penelitian di bidang ilmu dasar sebagai dasar pengembangan ilmu baru,” ujarnya ditemui SINDO pada pembukaan Workshop Metodologi Penelitian dan Pekan Ilmiah Remaja, kemarin.

Ahkam mengungkapkan, dari sekitar 800 proposal penelitian yang masuk setiap tahunnya ke LIPI untuk mengikuti Lomba Karya Ilmiah Remaja, secara kualitas terus mengalami perbaikan. Akan tetapi, dari sekian banyak proposal penelitian, para pelajar dan mahasiswa yang bersekolah di Pulau Jawa lebih dominan dibanding pelajar dan mahasiswa di luar Jawa. “Secara kuantitas sudah hampir berimbang yaitu 60:40 antara penelitian dari Jawa dan luar Jawa. Akan tetapi, kalau bicara kualitas, ya, bisa 80:20 perbandingannya,” tukasnya.

Diakui peneliti berkaca mata itu, kendala yang sangat terlihat dalam sebuah penelitian adalah penulisan proposal dan karya tulis ilmiah yang belum tersusun secara rapi. Dia menuturkan, hal itu merupakan tanggung jawab bagi para guru, dosen, peneliti, dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas penulisan suatu penelitian.

Sebagai wujud tanggung jawab itulah anggota LIPI melakukan kunjungan ke daerah-daerah untuk memberikan standardisasi dalam suatu penelitian. Ahkam menuturkan, dalam kunjungannya LIPI juga memberikan arahan mengenai penyusunan proposal penelitian dan tata cara penulisan karya tulis ilmiah. “Terkadang isi proposal penelitian yang masuk ke kita itu bagus sekali secara isi. Tetapi karena penyajian data dan redaksionalnya amburadul, membuat tim penilai kesulitan dan memvonis tidak meloloskan penelitian tersebut,” terangnya.

Kepala Badan Diklat Provinsi Sumatera Selatan Harun Al Rasyid mengatakan, dengan semakin sering menggelar kegiatan lomba karya ilmiah, diharapkan muncul peneliti-peneliti baru yang dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dia berharap, hasil penelitian tersebut dapat meningkatkan derajat hidup masyarakat secara umum. “Pemerintah akan terus mendukung dan mendorong lahirnya peneliti baru dengan hasil penelitian yang diharapkan bisa bermanfaat untuk masyarakat banyak,” tegasnya.

Harun mengungkapkan, minimnya jumlah peneliti maupun hasil penelitian di Sumsel ini dipengaruhi paradigma bahwa untuk melakukan sebuah penelitian dibutuhkan waktu lama dan biaya besar. Menurutnya, bagi calon peneliti bisa mengajukan proposal kepada pemerintah maupun perusahaan yang berkompeten. ”Di setiap pemda, kan, ada (badan) Litbang-nya. Hubungi mereka dan kalau dinilai layak, maka pemerintah akan mengusahakan bantuan biaya penelitian,” ungkapnya. (iwan setiawan)

Lomba burung kicau


Para juri perlombaan tengah menilai burung murai batu yang bertanding dalam kelas eksekutif. Ratusan burung berbagai jenis seperti murai batu, kenari, kacer, cucakrawa, lovebird, dan cendet mengikuti ajang Pameran dan Lomba Burung Berkicau Gubernur Cup Sumatera Selatan 2008. Acara tersebut digelar di halaman parkir GOR Sriwijaya Minggu 11 Mei 2008.

publikasi : sindo sumsel; selasa 13 mei 2008; halaman 36