publikasi : sindo sumsel; kamis 29 november 2007; halaman 11
29 November 2007
Sumpah Jabatan
23 November 2007
Berjalan Tertatih di Tengah Badai Narkoba
Berawal dari keprihatinan melihat semakin banyaknya para pengguna narkoba, Ali Nangcik, 47, merasa terpanggil hatinya untuk mencurahkan kemampuan yang dimilikinya untuk menyembuhkan para pecandu narkoba. “Waktu muda dulu saya ini orangnya seneng pergi ke mana–mana. Tapi satu yang saya lihat, di tiap tempat yang saya singgahi kok persoalan yang dihadapi masyarakatnya sama, yaitu banyak yang suka mabuk–mabukan, baik itu minuman keras ataupun narkoba. Dari situlah saya berpikir untuk mencoba mengubah perilaku menyimpang masyarakat itu, ya tentunya untuk skala yang kecil dululah,”kata Ali.
Untuk mewujudkan keinginannya itu, pada 14 September 1989, Ali mendirikan sebuah yayasan rehabilitasi mental dan narkoba yang diberinya nama Yayasan Al Ichlas. Dengan dukungan yang datang dari keluarga dan teman–temannya, yayasan itu mulai menerima pasien yang merupakan para pengguna narkoba yang rata–rata telah masuk kategori berat. Selain itu, yayasan juga menerima orang-orang yang mengalami gangguan mental yang berat. “Biasanya yang masuk ke sini, yang telah memasuki stadium lanjut. Bisa dibilang yang sudah masuk tahapan merusak. Selain itu keluarga mereka sudah tidak sanggup lagi mengurus mereka sehingga menitipkan disini, dengan harapan mereka bisa disembuhkan dan menjalani hidup normal kembali,”ujarnya.
Niat tulus bapak 9 orang anak ini bukannya tanpa masalah. Salah seorang pasiennya pernah meninggal pada saat menjalani rehabilitasi, namun bukan karena kesalahan yang dilakukan oleh para terapis, tapi karena memang kondisi pasien sudah sangat mengenaskan akibat pengaruh narkoba yang dipakainya. Ali sebagai pemilik yayasan sempat mendapat tuntutan dari keluarga pasien itu. Oleh karenanya atas saran dari teman–temannya, maka pada tahun 2000 lalu Yayasan Rehabilitasi Mental dan Narkoba Al Ichlas yang beralamat di jalan Sukabangun II Km 6 Soak Simpur Palembang, didaftarkan pada Departemen Sosial dan resmi memiliki badan hukum.
Ali yang mengaku hanya tamatan SD ini mengatakan, kalau kemampuannya menyembuhkan orang mulai dirasakannya sejak mengikuti pengajian Amanat Keagungan Ilahi. “Tahun 1983 saya mengikuti pengajian AKI, nah sejak itu pula saya berkeyakinan ilmu dan amalan yang saya dapatkan harus dapat saya gunakan untuk kemaslahatan umat,”ungkap suami dari Ani, 40, itu.
Pasien bersama pengawas tengah makan siang seusai bekerja di tambak ikan
Saat ini jumlah pasien yang adadi penampungan rehabilitasi Yayasan Al Ichlas berjumlah 84 orang, yang 5 diantaranya adalah perempuan. Rentang usia pasien yang tengah menjalani proses penyembuhan adalah 12 hingga 70 tahun. Dari 84 orang pasien tersebut, mereka dimasukkan ke dalam 5 ruangan mirip sel, dengan kapasitas ideal hanya untuk menampung 40 orang. Kekurangan daya tampung itu tengah diusahakan penambahannya oleh yayasan. Namun karena keterbatasan yang dimiliki yayasan, untuk sementara penambahan ruangan itu baru sebatas mendirikan dinding ruangan. Dalam terapi yang dilakukannya, Ali menerapkan prinsip dasar yang harus dilakukan pasiennya yaitu mengingat dan selalu mengucapkan 2 kalimat syahadat. Karena menurut pandangan Ali, jika seseorang dalam kondisi apapun masih mengingat Allah, maka harapan mengenai kemungkinan terbaik masih ada. Ali mengaku, selama ini kelangsungan hidup yayasan ditanggung sendiri oleh dirinya selaku pengelola yayasan. Sejak mendirikan yayasan ini, Ali menerapkan aturan yang cukup unik yaitu, apa yang dimakan keluarganya itu juga yang dimakan oleh para pasien. Dengan pendekatan kekeluargaan yang dilakukan seperti itu, Ali berharap para pasien dapat lebih mudah menerima terapi yang dilakukan oleh staf yayasan. Selain mengandalkan usaha yang dilakukan bersama–sama para pasien, Ali mengungkapkan pihak yayasan terus berupaya mencari donasi. (cr 03)
foto : iwan setiawan
10 November 2007
Tunjangan Veteran Masih Tak Menentu
REFLEKSI HARI PAHLAWANBangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Namun, kata-kata bijak itu belum sepenuhnya dirasakan pejuang di Kota Palembang.
Salah satunya adalah Kgs Abdul Somad Mustofa. Kehidupan veteran perang kemerdekaan dengan pangkat terakhir mayor ini jauh dari kesan sejahtera dan tidak sebanding dengan jasa-jasa dan pengorbanan yang telah diberikannya untuk merebut kemerdekaan Republik ini. Abdul Somad tidak sendirian. Kakek 12 cucu ini merupakan sebuah gambaran umum betapa masih kurangnya perhatian pemerintah terhadap para veteran dan pahlawan ini.
Setiap 10 November bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Namun, di kalangan generasi muda saat ini arti pahlawan dan pejuang seolah tidak ada makna sama sekali. Mereka merasa tidak peduli mengenai siapa yang berjuang untuk melepaskan bangsa ini dari cengkeraman penjajah. Oleh karenanya, penghormatan yang selayaknya diberikan kepada para pahlawan itu tidak ada sama sekali. Hal itu sangat dirasakan Kgs Abdul Somad Mustofa, 79, seorang veteran pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang saat ini tinggal di rumah sederhananya di Jalan Pedang, Kompleks YPP No 47 RT 06/02 Kel 20 Ilir D II, Kec Kemuning. Menurut Somad, sebenarnya pada waktu para pejuang maju ke medan perang mempertaruhkan jiwa dan raga untuk merebut kemerdekaan Indonesia, mereka tidak pernah mengharapkan balasan apapun. Namun, dia berharap generasi muda dan pemerintah saat ini menghargai apa yang telah mereka raih dahulu. ”Waktu berjuang dulu kami merasa itu sebuah kewajiban dan ikhlas menjalaninya. Dak pernah kami betanyo apo imbalannyo kalau Belanda pacak kami usir. Tapi jingoklah sekarang, apo yang telah diupayoke para pejuang dulu, pecaknyo sia-sia,” ucapnya.
Bapak tujuh anak yang ditetapkan sebagai veteran pejuang kemerdekaan Republik Indonesia oleh Panglima TNI LB Moerdani pada 26 Desember 1992 ini mengaku, perhatian yang diberikan pemerintah kepada para veteran pejuang masih dirasakan kurang merata. Banyak para pejuang yang tidak memiliki pengakuan dari pemerintah mengenai kepahlawanannya.
Bahkan, bantuan yang diberikan pemerintah masih belum dapat dirasakan seluruh pejuang. Pendapatan yang berasal dari uang pensiunan sekitar Rp1 juta dan tunjangan veteran sebesar Rp400.000 per bulan, dinilainya tidak sebanding dengan apa yang diperoleh para pejabat saat ini yang bisa mendapatkan 10 kali lipat. Padahal, jasa mereka kepada negara belum terbukti. ”Jangankan memberikan perhatian berupa insentif atau dana bantuan secara rutin, mengundang kami untuk hadir di peringatan hari-hari besar nasional pun sangat jarang dilakukan. Itu kan membuktikan bahwa pemerintah belum sepenuhnya memerhatikan kami,” ujarnya.
Purnawirawan perwira yang terakhir bertugas di Pusat Angkutan (Pusang) Angkatan Darat ini mengharapkan agar pemerintah lebih memerhatikan nasib para pejuang dan veteran perang kemerdekaan. Sebab, menurutnya jumlah veteran dan pejuang yang ada saat ini hanya sebagian kecil dari 220 juta lebih jumlah penduduk Indonesia, dan tidak akan pernah bertambah. ”Jumlah kami ini kan tidak sebanyak PNS atau tentara yang aktif. Bahkan, dalam hitungan lima tahun ke depan, mungkin jumlah veteran perang kemerdekaan bisa dihitung pakai jari,” ungkapnya penuh harap. (CR-03)
foto : iwan setiawan
publikasi : sindo sumsel; sabtu 10 november 2007; halaman 1