25 Desember 2008

Pertamina Gelar Pengobatan Gratis

Warga menunggu obat dari tim pelayanan medis kesehatan Pertamina UPms II, kemarin.


PALEMBANG (SINDO) – Menutup rangkaian kegiatan perayaan HUT Ke-51 PT Pertamina (Persero), Pertamina UPms II menggelar kegiatan pengobatan massal gratis bagi warga Kelurahan 14 Ulu dan Tangga Takat.

Koordinator Lapangan Kegiatan Pengobatan Gratis PT Pertamina (Persero) Pms BBM Retail Region II Muhammad Saleh mengatakan, selain untuk memperingati HUT PT Pertamina (Persero), kegiatan ini sebagai bentuk corporate social responsibility (CSR). Saleh menerangkan, sebelum menggelar pengobatan massal di Kelurahan 14 Ulu dan Tangga Takat kemarin, kegiatan serupa juga telah dilaksanakan di Kelurahan Kemang Agung, Kecamatan Kertapati. “Kami targetkan bisa melayani 500 pasien. Tapi, melihat animo masyarakat yang begitu besar, bisa saja lebih,” ujarnya kepada SINDO di halaman Panti Asuhan Yayasan Madrasah Nasril Islamiyah (Yamni) Kelurahan 14 Ulu, Palembang, kemarin.

Sebagai pendukung kegiatan, pihaknya telah menyiapkan beragam obat-obatan yang standarnya sama dengan pegawai Pertamina. Selain itu, dalam kegiatan pengobatan massal gratis, Pertamina menurunkan sebagian tim pelayanan medis kesehatan UPms II dan satu dokter. Bahkan, dokter umum dan perawat dari Puskesmas setempat juga dilibatkan dalam kegiatan tersebut.

Sementara itu, Ketua RT 15 A Nyayu Rohamah AH mengucapkan terima kasih dan bersyukur atas digelarnya kegiatan pengobatan massal ini. Menurut dia, kegiatan ini sangat membantu warganya yang sedang menderita penyakit tapi tidak memiliki cukup biaya untuk berobat ke dokter umum. “Mudah-mudahan kegiatan ini bisa berlanjut menjadi sesuatu yang rutin dilaksanakan. Sebab, masyarakat di tempat kami kebanyakan kelas menengah ke bawah, sehingga masih butuh bantuan seperti ini,” tuturnya. (iwan setiawan)

foto : iwan setiawan


24 Desember 2008

HET APMS-SPBB Turun Rp 5

PALEMBANG (SINDO) – Pemprov Sumatera Selatan menyepakati penurunan Rp 5 per liter ongkos angkut BBM bagi agen premium dan minyak solar (APMS) serta stasiun pengisian bahan bakar (SPBB) khusus bunker.

Kepala Biro Ekonomi Setda Provinsi Sumsel Zainuddin mengatakan, menyikapi penurunan harga BBM bersubsidi jenis premium dan solar yang berdampak pada turunnya ongkos angkut, Pemprov Sumsel melakukan evaluasi khusus untuk APMS serta SPBB khusus bunker. Menurut Zainuddin, sebelum terjadi penurunan harga BBM, ongkos angkut ke APMS dan SPBB sebesar Rp 60 per liter. Namun, setelah adanya penurunan harga BBM selama Desember ini, disepakati adanya rencana penurunan besaran ongkos angkut BBM. “Rapat tadi (kemarin) menyetujui besaran penurunan ongkos angkut premium dan solar untuk APMS dan SPBB menjadi Rp 55 dari sebelumnya Rp 60. Besaran penurunan ini akan segera kami ajukan kepada gubernur untuk kemudian dikeluarkan SK,” ujarnya kepada SINDO di ruang kerjanya kemarin.

Dia menerangkan, secara teknis penurunan ongkos angkut hanya sebesar 3,6% atau sekitar Rp 3. Namun setelah dibahas lebih lanjut, dengan berbagai pertimbangan, disepakati angka Rp 5. Nilai tersebut berlaku untuk APMS dan SPBB yang berada pada radius 40 km. “Di luar jarak tersebut, penetapannya berdasarkan SK bupati atau wali kota setempat. Setelah ditetapkan, hasilnya akan kami kembalikan kepada Pertamina sebagai operator distribusi BBM,” tuturnya.

Wakil Ketua DPC Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Palembang Nina Hikma menyatakan, pada dasarnya agen tidak menginginkan terjadinya penurunan harga ongkos angkut BBM pada APMS dan SPBB. Namun, karena memerhatikan pula kondisi masyarakat, para pengusaha bisa menerima evaluasi sebagai dampak penurunan harga BBM bersubsidi oleh pemerintah. Dengan adanya penurunan tersebut, harga eceran tertinggi (HET) BBM di tingkat pengecer adalah Rp 5.055 per liter dan solar Rp 4.855 per liter. “Maunya kami sih nggak turun, tapi setelah sempat tarik ulur akhirnya angka (Rp 55) tersebut yang kami sepakati,” ungkapnya.

Sementara itu, Asisten Humas PT Pertamina (Persero) Pms BBM Retail Region II Roberth MV menerangkan, di Sumsel saat ini terdapat 11 APMS dari total 49 APMS yang ada di wilayah kerja UPms II. Sementara, jumlah SPBB yang ada di UPms II sebanyak 13 unit dan 8 di antaranya berada di Sumsel. “Mengenai penetapan HET di APMS dan SPBB, kami masih menunggu keputusan pemerintah daerah karena itu merupakan kewenangan pemda,” tuturnya. (iwan setiawan)


23 Desember 2008

Sektor Migas Dimaksimalkan

PALEMBANG (SINDO) – Wilayah Indonesia memiliki potensi cadangan minyak bumi sangat besar. Namun, diperkirakan baru sekitar 70% potensi tersebut yang diproduksi.

Staf Pengajar UPN Veteran Yogyakarta Haryadi mengatakan, di Indonesia, terdapat sekurangnya 85 cekungan yang diperkirakan sumber minyak dan gas bumi berada. Namun dari jumlah tersebut, baru sekitar 15 cekungan yang dieksplorasi berbagai perusahaan kontraktor migas. Haryadi menyayangkan besarnya potensi migas Indonesia tersebut belum diiringi dengan kemampuan kontraktor migas, baik dalam modal maupun infrastruktur. “Memang harus diakui, untuk memproduksi minyak atau gas sangat kompleks permasalahannya. Sebab, dari 85 cekungan yang terdeteksi tersebut, belum terbukti apakah benar-benar ada cadangan minyaknya atau tidak. Oleh karena itu, bisnis di sektor migas ini besar sekali risikonya,” ujarnya.

Haryadi menambahkan, perusahaan kontraktor migas di Indonesia selama ini lebih terfokus pada lapangan di wilayah bagian barat Indonesia dan berada di daratan. Padahal, cekungan yang memiliki potensi minyak tersebut lebih banyak berada di wilayah Indonesia bagian timur dan berada di lautan (off shore). “Selain biaya yang dikeluarkan lebih besar, risiko yang ditanggung perusahaan jika melakukan eksplorasi di lepas pantai memang jauh lebih tinggi. Namun seperti halnya di beberapa negara, potensi minyak lebih banyak berada di dasar laut,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Kepala BP Migas Abdul Muin menyatakan, berdasarkan data di pemerintah, sekurangnya terdapat 13.824 sumur minyak tua di Indonesia. Jumlah tersebut tersebar dan akan diaktifkan kembali untuk diproduksi. Pasalnya, diperkirakan 5.000–12.000 barel per hari (bph) dapat dihasilkan dari pengaktifan tersebut. “Di antara sekian banyak sumur tua itu, masih ada yang menghasilkan dan ada juga yang telah mati. Meski demikian, sumur-sumur tua ini masih memiliki potensi menghasilkan minyak yang cukup baik. Hal ini sangat bermanfaat dalam upaya menambah produksi minyak nasional. Pengelolaan sumur minyak tua bisa dilakukan KUD dan BUMD,” tuturnya. (iwan setiawan)


22 Desember 2008

Investasi Terganjal Ego Instansi

PALEMBANG (SINDO) – Potensi sumber daya alam yang dimiliki Sumatera Selatan (Sumsel) merupakan magnet besar bagi investor menanamkan modalnya. Namun, realisasi investasi tersebut terhalang ego sektoral dari instansi birokrasi Sumsel.

Kepala Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Sumsel Permana mengatakan, meski tidak tampak ke permukaan, persoalan rumitnya birokrasi telah dirasakan lama. Sebagai contoh, jika terdapat calon investor yang mencari informasi ke Sumsel, hanya beberapa instansi yang memberikan penjelasan. “Padahal, calon investor tersebut tentunya memerlukan data komprehensif mengenai Sumsel. Misalnya calon investor perkebunan, maka yang merasa berhak adalah sektor perkebunan dan keberatan jika ada instansi lain ikut memberikan penjelasan. Itu memang benar. Tapi investor butuh keterangan infrastruktur lain sebagai pendukung usahanya kelak, seperti sektor energi, jalan, pajak, dan lain sebagainya. Nah, apa cukup satu instansi saja yang memberikan penjelasan,” papar Permana kepada SINDO belum lama ini.

Pemimpin Bank Indonesia Palembang Endoong Abdul Gani menambahkan, dengan potensi sumber daya alam yang sangat besar, Sumsel menjadi pilihan utama bagi para investor. Namun, para investor masih kesulitan mendapat data akurat dan terbaru mengenai potensi yang dimiliki. “Padahal, di era teknologi saat ini, sudah waktunya dimanfaatkan dengan memberikan informasi secara tepat, cepat, dan akurat. Sekarang ini zamannya sudah canggih. Informasi awal potensi Sumsel harusnya sudah bisa ditampilkan di internet sehingga calon investor mendapat gambaran awal kondisi Sumsel,” tuturnya. (iwan setiawan)


16 Kapal Tanker BBM Standby

PALEMBANG (SINDO) – Mengantisipasi perayaan Natal dan pergantian tahun, Pertamina menyiapkan rencana dan strategi untuk memenuhi kebutuhan BBM masyarakat. Untuk menyuplai beberapa daerah di wilayah kerja UPms II, Pertamina menyiapkan 16 kapal tanker BBM.

General Manager PT Pertamina (Persero) UPms BBM Retail Region II Hasto Wibowo mengatakan, meski harga premium turun menjadi Rp 5.000, Pertamina mengharapkan masyarakat hemat mengonsumsi premium dan solar. Untuk memantau suplai saat Natal dan tahun baru, Pertamina kembali membentuk satgas khusus seperti halnya ketika Lebaran lalu. “Nantinya satgas akan memantau suplai BBM ke SPBU. Apabila terjadi antrean panjang dan stok menipis, akan dilaporkan kepada Pertamina. Masyarakat kami imbau, saat perayaan hari-hari besar, kalau tidak terlalu urgen, kurangilah berkendara. Apalagi, kalau cuma untuk berkeliling kota yang tingkat kepentingannya kecil sekali,” ujarnya kemarin.

Sementara itu, Asisten Humas PT Pertamina (persero) Pms BBM Retail Region II Roberth MV mengatakan, untuk daerah di wilayah kerja yang berada di luar Sumsel, Pertamina telah menyiapkan armada kapal angkutan BBM dalam rangka built up stock BBM di beberapa depot penyimpanan. Roberth mengungkapkan, persiapan ini dilakukan untuk menghindari kejadian seperti tahun sebelumnya, yakni daerah yang sulit dijangkau dari darat mengalami kesulitan pasokan BBM. “Seperti Jambi yang tahun lalu terhenti pasokan BBM karena cuaca yang tidak mendukung di perairan dan infrastruktur jalan darat yang belum baik. Tapi, sekarang kami sudah antisipasi semuanya melalui berbagai cara, baik darat maupun air,” tuturnya. (iwan setiawan)