10 September 2008

Tinggalkan Keluarga demi Profesionalisme

MENYIBAK KERJA PENYIAR RADIO SELAMA RAMADAN (2-HABIS)

Dina Tanjung saat menyapa pendengarnya kemarin. Selama Ramadan, dia sering meninggalkan keluarganya.

Memasuki bulan suci Ramadan, bukan berarti seorang penyiar radio harus mengurangi frekuensi siarannya. Lantas, bagaimana cara menyiasatinya?

Jiwa entertainment sudah tertanam dalam dirinya sejak kecil. Berawal dari hobi tampil di depan teman-teman dan ditunjang vokal yang khas, membuatnya memutuskan untuk menekuni profesi sebagai announcer (penyiar) di sebuah stasiun radio berita ternama di kota Palembang. Ya… bagi Anda pendengar setia Radio Smart FM yang mengudara di frekuensi 101,8 MHz, suara pemilik nama udara Dina Tanjung, 31, sudah tidak asing lagi di telinga. Secara bergantian, Dina mengasuh program Harmoni Keluarga yang naik siar pada pukul 09.00–12.00 WIB setiap hari. Memasuki bulan suci Ramadan seperti sekarang, dimana aktivitas pekerjaan sedikit dikurangi karena harus berpuasa, tidak membuat Dina lemas atau kurang bergairah. Apalagi, karena sudah satu dasawarsa menekuni profesi ini, dia mengaku memiliki trik-trik untuk menyiasati kondisi yang dihadapinya. Jika memang jadwal siaran mengharuskannya untuk berbuka puasa di kantor, terlebih dahulu dia akan menyiapkan hidangan berbuka untuk suami dan anak-anaknya. Namun, terkadang sebagai wujud dukungan sang suami dan anak-anak, mereka pun berbuka puasa bersama di kantor radio. “Suami dan anak-anak sering juga membeli makanan dan berbuka bersama di kantor jika saya kebagian jatah piket siaran sore,”ujar dia belum lama ini.

Meski semuanya berjalan lancar, ada satu yang mengganjal di hatinya. Sebab, anak-anaknya saat ini sedang dalam usia beranjak remaja dan sedang belajar menjalankan ibadah puasa. Sementara si bungsu, kini sudah berusia 8 bulan. Setiap kali siaran, anak-anaknya terpaksa dititipkan kepada sang nenek. Jika selalu dibawa ke studio, Dina takut malah mengganggu konsentrasinya dalam bekerja. Seperti ibu-ibu lain pada umumnya, dia juga ingin bersama keluarga saat berbuka puasa tiba. Namun, karena konsekuensi profesinya, dia pun harus mengesampingkan rasa rindunya kepada sang buah hati hingga kembali ke rumah setelah mengerjakan tanggung jawabnya. “Si bungsu lagi lucu-lucunya, ingin rasanya selalu berada di dekatnya. Tapi, tugas ini juga tanggung jawab saya. Jadi, mau tidak mau saya harus profesional,” ucapnya mantap.

Dunia jurnalistik bagi Dina bukanlah barang asing. Sebab, pada saat kuliah dulu, dia memilih jurusan komunikasi jurnalistik di Stisipol Candradimuka Palembang. Sebelum bergabung dengan Smart FM, Dina sempat bekerja sebagai reporter di Media Sumatera. Namun, ketika terbuka kesempatan untuk bergabung dengan Radio SmartFM yang baru membuka biro Palembang pada 1998, tanpa menunggu lama, Dina langsung memutuskan untuk bergabung. Jadilah wanita pemilik suara merdu itu menjalani hari-harinya sebagai penyiar yang memandu berbagai acara talkshow dan membacakan berita yang menjadi menu utama radio tersebut. Sepuluh tahun menekuni dunia broadcasting membuat Dina paham betul seluk beluk profesinya tersebut. Suka-duka yang mengiringi profesinya membuat istri Iman Sugandi ini semakin kuat. Dukungan dari suami menjadikan semangat ibu tiga anak ini berlipat. “Kalau tidak didukung suami, mungkin sejak awal menikah dulu, saya sudah berhenti jadi penyiar,”pungkasnya. (iwan setiawan)

foto : iwan setiawan

publikasi : sindo sumsel; rabu 10 september 2008; halaman 13

16 Agustus 2008

Perketat Pengawasan BBM

WAWANCARA KHUSUS KETUA DPD HISWANAMIGAS SUMSEL DJUNAIDI RAMLI

Sejak bergabung di Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswanamigas) empat tahun lalu, pemilik usaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) 24.301.118 yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Km 3,5, Palembang, ini kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Hiswanamigas Sumatera bagian Selatan.

Saat diwawancarai SINDO di kediamannya kemarin, Djunaidi Ramli berbagi pemikirannya dalam membangun organisasi pengusaha minyak nasional, termasuk langkah strategis Hiswanamigas menghadapi kerjasama dengan Pertamina dan fungsi layanan kepada masyarakat.

Apa perbedaan mendasar yang Anda rasakan saat menjadi anggota biasa dengan posisi ketua seperti sekarang ini?


Menurut saya tidak ada perbedaan yang prinsipiil saat saya menjadi anggota atau setelah saya dipilih dan dilantik menjadi ketua. Sebab, sewaktu menjadi anggota, saya merasakan bahwa Hiswanamigas dibentuk untuk melindungi dan menindaklanjuti apa yang dibutuhkan para anggotanya. Walaupun sekarang saya berada di posisi sebagai ketua, saya tetap merasa dan menempatkan diri saya sebagai anggota. Dengan begitu, lebih memudahkan saya untuk mengambil keputusan karena juga berdampak pada usaha saya sendiri.

Usaha yang dijalankan anggota organisasi ini kan berisiko tinggi. Bagaimana Anda menyikapi persaingan di antara sesama anggota?


Alhamdulillah persaingan di sektor usaha migas saat ini cukup sehat, karena kita punya aturan yang jelas. Meskipun lokasi usaha berdekatan, persaingan usaha ini tetap mengedepankan pencitraan dan kualitas pelayanan. Jadi yang menilainya itu masyarakat luas. Hal itu berlaku untuk SPBU maupun agen gas elpiji.

Khusus di Sumsel, hal apa saja yang masih perlu dibenahi terkait bidang kerja Hiswanamigas?


Secara prinsip, yang masih harus dibenahi adalah masalah distribusi BBM. Untuk distribusi BBM ini sendiri, Pertamina masih belum memiliki pola pasti dalam mengirim pasokan BBM ke tiap SPBU. Selain itu, keterbatasan infrastruktur yang dimiliki Pertamina membuat suplai tidak maksimal, terutama ke daerah kabupaten/kota.

Apa yang membuat distribusi itu terhambat?


Berdasarkan pengalaman kami selama ini, sumber permasalahan terhambatnya pasokan bagi SPBU adalah di depot Pertamina sendiri. Kami para pengusaha SPBU sangat berharap pengawasan operasional yang dilakukan Pertamina lebih diperketat. Seperti halnya kondisi peralatan di depot, itu kan yang tahu hanya Pertamina sendiri. Mengapa kalau ada yang rusak atau ada jadwal perawatan suatu peralatan tidak disiapkan terlebih dulu penggantinya. Sebab, jika hal itu telah diantisipasi, saya yakin operasional pengiriman pasokan BBM ke SPBU tidak terhenti.

Saran Anda buat Pertamina?


Sebagai pengurus DPD Hiswanamigas Sumsel yang baru, saya dan pengurus lainnya akan sowan kepada Pertamina untuk mempertanyakan persoalan ini dan membahasnya bersama-sama. Kita akan urun rembuk mengenai persoalan yang dihadapi bersama.

Tapi, pada banyak peristiwa marak terjadi kecurangan, justru pada saat BBM berada di perjalanan atau lebih dikenal dengan kasus “tangki kencing”, bagaimana Hiswanamigas menanggapi masalah ini?


Memang masalah itu (tangki kencing) tidak bisa kita pungkiri, apalagi sudah sangat sering oknum-oknum sopir tangki BBM yang ”nakal” itu ditangkap aparat kepolisian. Namun, mereka juga kan manusia yang memiliki kebutuhan, sehingga mereka terdorong untuk melakukan kecurangan itu. Tapi, kita jangan semata-mata lantas menimpakan kesalahan 100% pada mereka. Kita juga perlu lebih dulu melihat latar belakang sehingga mereka nekat melakukan itu.

Dengan pola baru yang diterapkanPertamina, yaitu hanya menyewa mobil tangki, sementara sopir dan kernet di-
hire oleh mereka, apakah langkah ini mampu menekan kecurangan yang terjadi?

Menurut saya tidak juga efektif. Sebab, berbagai pola yang diterapkan Pertamina hingga kini tidak pernah mampu mengatasi kecurangan itu. Seperti halnya pola pengawasan dengan menggunakan global positioning system (GPS), yang mana Pertamina bisa mengawasi setiap tangki yang keluar dari depot melalui satelit. Tapi, buktinya strategi itu sampai sekarang belum sepenuhnya jalan. Sementara, kita sangat mendukung pola itu dan berharap Pertamina segera menerapkan pola pengawasan menggunakan GPS.

Sebenarnya bagaimana kondisi hubungan Hiswanamigas dengan Pertamina saat ini?


Sebagai mitra kerja Pertamina dalam tata niaga dan distribusi BBM dan gas, selama ini hubungan kita harmonis saja. Walaupun anggota Hiswanamigas sering mengeluhkan layanan Pertamina, mereka (Pertamina) juga tidak jarang komplain atas pelayanan anggota kita yang tidak maksimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.Tapi itu wajar dalam suatu hubungan kerja. Kita sebagai pengurus menjadi wadah atau fasilitator bagi anggota maupun pihak Pertamina untuk sama-sama mencari penyelesaian terhadap masalah yang dihadapi.

Soal masih sering ada anggota Hiswanamigas yang melakukan pelanggaran, baik dari Pertamina maupun Hiswanamigas sendiri?


Memang kita akui masih ada anggota kita yang belum taat pada aturan yang sudah ditetapkan. Contoh kecil saja, masih ada di antara sekitar 2.000 anggota Hiswanamigas Sumsel yang tidak mau memenuhi kewajibannya membayar iuran anggota. Untuk itu, kita akan meminta bantuan Pertamina untuk mengingatkan kepada pengusaha SPBU maupun agen elpiji agar bersedia memenuhi kewajibannya itu. Sebab, iuran itu sangat dibutuhkan oleh organisasi untuk menjalankan fungsi organisasinya. Sementara, untuk pelanggaran yang berat saya kira belum ada yang sampai ke arah situ.

Bagaimana Anda melihat program konversi minyak tanah ke gas elpiji yang saat ini sudah selesai untuk Kota Palembang dan sedang dimulai di kabupaten dan kota lainnya di Sumsel?


Hiswanamigas menilai kebijakan pemerintah ini sangat terburu-buru karena sosialisasi yang dilakukan sangat singkat. Menurut hitung-hitungan kita, paling tidak dibutuhkan waktu empat hingga lima tahun sebelum program ini dijalankan. Sebab, kalau kita lihat di masyarakat saat ini, mereka kaget atas pemberlakuan kebijakan yang sangat cepat itu. Bukan hanya masyarakat yang tidak siap menerima kebijakan ini, Pertamina sebagai leading sector konversi juga terlihat keteteran menjalankannya. Hingga saat ini pun Pertamina kesulitan mendapatkan tabung gas elpiji 3 kg dari para produsen tabung dalam negeri, sehingga harus mengimpor tabung dari luar negeri. Akibat terburu-buru dalam pengerjaannya, meski jumlahnya tidak banyak, secara kualitas, tabung-tabung tersebut diragukan. (iwan setiawan)

BIODATA

Nama : Drs H Djunaidi Ramli SH MSi

Istri : Hj Noni SKM

Anak : 1. dr Widya Anggraini
2. HM Heru Hermawan SSTP SH MSi
3. dr Dian Dameria
4. Rizky Septiani

Pendidikan : > SD negeri di Desa Bantan, OKUT
> SMP Negeri 5 Palembang
> SMA Negeri 4 Palembang
> APDN Palembang
> Fakultas Hukum UMP
> Fakultas FIA Universitas Syakyakirti
> Program Pascasarjana Universitas Satyagama

Pekerjaan/ usaha : > PNS Pemda Provinsi Sumsel (1975–2007)
> Pemilik SPBU 24.301.118
> Direktur PT Wiruan Juni
> Pemilik Rumah Bersalin Darmapala

Organisasi : > Dewan Penasihat Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (2002)
> Anggota Hiswanamigas Kota Palembang (2004)
> Wakil Ketua DPD Partai Hanura Sumsel (2007)
> Ketua DPD II Hiswanamigas Sumbagsel (2008)

13 Agustus 2008

Krisis Listrik, Lampu Penjor Makin Jarang Ditemui

PERNAK-PERNIK HIASAN 17 AGUSTUS

Lampu penjor menghiasi sejumlah ruas jalan protokol. Namun, pemasangannya dibatasi di rumah warga.

Lampu penjor yang biasanya menghiasi setiap pagar rumah warga menjelang peringatan Hari Kemerdekaan ke-63 Republik Indonesia mulai sulit ditemui. Sepekan menjelang puncak peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus, berbagai persiapan sudah dilakukan. Gelaran berbagai kegiatan unik yang hanya muncul satu tahun sekali, seperti pemasangan berbagai pernak-pernik bernuansa perjuangan dan nasionalisme, dapat ditemui hampir di setiap pemukiman warga. Pemasangan umbul-umbul dengan paduan warna terang dan mencolok yang menghiasi perkantoran di jalan-jalan protokol semakin menambah meriah suasana perayaan Hari Kemerdekaan RI yang telah menginjak angka 63 pada tahun ini.

Namun, jika diperhatikan dengan saksama, ada yang kurang dari berbagai macam ornamen hiasan yang terpasang di seluruh penjuru kota itu. Ya…lampu penjor. Lampu 5 watt warna-warni yang terpasang pada sebatang bambu itu kini tidak lagi terlihat menghiasi pagar rumah warga. Saat ini lampu hiasan yang dipasang untuk memperingati momen-momen tertentu itu hanya terlihat menyala di beberapa kantor perusahaan swasta. Padahal, dengan terpasangnya lampu tersebut, suasana malam lebih terasa indah dengan kilauan warna-warni yang dipancarkan lampu tersebut.

Abdul Halim, yang sehari-harinya berjualan alat-alat kelistrikan di kawasan Beringin Janggut, mengaku tahun ini omzet dagangan lampu penjor menurun drastis. Padahal, pada tahun sebelumnya, setiap memasuki Agustus, dia telah menghitung keuntungan yang bisa diraih. Namun, sejak terjadinya krisis listrik di Palembang dan wilayah Sumsel pada umumnya, dagangan lampu dan kabel untuk rangkaian lampu penjor nyaris tidak ada yang membeli. “Boro-boro mau untung, bisa terjual saja sudah keuntungan buat kita. Bayangkan saja, sudah kurang lima hari dari 17-an, belum ada stok lampu penjor yang terjual,”tuturnya.

Kondisi yang menimpa pedagang lampu penjor tidak lepas dari imbauan Dinas Penerangan Jalan Utilitas dan Pertamanan (PJUP) Kota Palembang kepada para camat dan lurah untuk mengurangi pemasangan lampu penjor di rumah-rumah warga. Hal itu sejalan dengan imbauan PLN tentang penghematan penggunaan listrik. “Intinya penghematan, ya tidak mesti di setiap sudut dipasangi lampu penjor. Kalau memang masih ingin memasang, ya pasang saja di mulut gang,” kata Kepala Dinas PJUP Taufik Sya’roni.

Menurut dia, pemkot juga akan mengurangi penggunaan listrik di taman-taman kota, termasuk pemasangan lampu penjor di sepanjang jalan protokol. Kalaupun ada pemasangan lampu penjor atau lampu hias di jalan protokol, jumlahnya akan dibatasi. “Kita harus memberi contoh kepada masyarakat untuk berhemat listrik,” ujarnya.

Manajer Komunikasi Hukum dan Administrasi PT PLN (Persero) wilayah S2JB Haris Effendi menjelaskan, larangan langsung untuk memasang lampu penjor dari PLN memang tidak ada. Namun, PLN mengimbau agar pemasangan lampu penjor atau lampu hias tidak berlebihan. Hal itu disebabkan PLN masih menghadapi masa kritis. “Sebenarnya kami juga ingin perayaan 17 Agustus tetap berlangsung meriah seperti halnya tahun-tahun lalu. Tapi, saat ini tidak memungkinkan karena kondisi PLN untuk menyediakan daya listrik masih belum optimal,” ujar Haris. Justru dalam kondisi keterbatasan seperti ini, kata dia, masyarakat dituntut lebih kreatif dalam memeriahkan suasana perayaan Hari Kemerdekaan RI. (iwan setiawan)

foto : mushaful imam

publikasi : sindo sumsel; rabu 13 agustus 2008; halaman 9

29 Juli 2008

Terasa Dingin Dipakai dan Tak Mudah Terbakar

KAIN TENUN IKAT ENDEK DARI BALI

Wawan memperlihatkan kain endek saat berkunjung ke Kantor Redaksi SINDO Sumsel.

Selain batik, masih banyak kain khas lain yang menjadi ciri budaya Indonesia. Salah satunya, kain endek dari Bali. Apa saja keistimewaannya?

Kekayaan yang dimiliki bumi Indonesia memang tiada duanya di dunia. Di Nusantara tersebar ratusan pulau dan suku, budaya, serta adat istiadat. Bali sebagai ikon budaya Indonesia juga memiliki kain tenun ikat tradisional yang dikenal dengan sebutan kain endek. Seperti halnya songket dari Palembang, kain endek awalnya hanya digunakan para orangtua dan kalangan bangsawan di Bali. Namun, seiring perkembangan zaman, kini hampir sebagian besar masyarakat Bali sudah bisa mengenakannya, baik untuk upacara besar maupun sembahyang ke pura. Bahkan, pegawai di instansi pemerintahan Bali kini menggunakannya sebagai seragam. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menjaga eksistensi kain tenun ikat khas Bali itu. Upaya lain, agar kain khas Bali bisa lebih dikenal masyarakat. Nah, banyak cara untuk mengenalkan sekaligus memasarkan kain tenun ikat khas Bali tersebut, antara lain dengan membawanya berkeliling Indonesia.

Seperti yang dilakukanWawan, 25, warga Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Dengan hasrat ingin mengenalkan kain endek ke seluruh Indonesia, Wawan rela melakukan perjalanan panjang hingga kakinya tiba di Bumi Sriwijaya. Sebelum berada di Palembang, sejumlah kota di Pulau Sumatera sudah dia singgahi dalam dua bulan terakhir. “Kain khas Bali ini memiliki karakteristik khas, yaitu dingin seperti basah, tapi gak basah. Selain itu, benangnya gak mudah putus,” ujar Wawan di Kantor Redaksi SINDO Sumsel belum lama ini.

Yang paling membedakan, kata dia, kain endek ini jika terkena api, seperti puntung rokok, tidak mudah terbakar. Bahannya unik. Selain menggunakan benang katun, kain endek ada yang terbuat dari pelepah batang pisang. Kain ini memiliki sedikitnya 10 motif. Meski kain endek banyak dijumpai dalam wujud taplak meja, gorden, tas endek, baju, dan bentuk lain, umumnya kain endek dijual dalam bentuk kain lembaran. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, tergantung kekhasan motif dan kualitas bahan. Menurut Wawan, kain endek bisa didapat dengan harga mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Untuk kain lembaran ukuran 2,25 meter, biasanya dijual seharga Rp200.000. “Tapi namanya dagang, ya tergantung kesepakatan antara penjual dan pembeli. Kalau kita sih yang penting masyarakat bisa tahu bahwa Bali juga punya kain khas yang bisa dibanggakan, seperti halnya batik dan songket,” tukas dia.

Untuk satu potong kain endek, proses pembuatannya bisa menghabiskan waktu dua minggu hingga dua bulan. Warna dan motif tenunan bisa dipilih sendiri oleh konsumen atau tergantung pesanan. Pemakaian warna tidak boleh sembarangan karena akan memengaruhi hasil warna kain. Jika menggunakan pewarna sembarangan, kain akan mudah luntur dan cepat pudar. (iwan setiawan)

foto : iwan setiawan

publikasi : sindo sumsel; selasa 29 juli 2008; halaman 9

24 Juli 2008

Putra Sumatera Selatan Pertama Pimpin Freeport

ARMANDO MAHLER, PRESIDEN DIREKTUR DAN CEO PT FREEPORT INDONESIA

Salah satu putra daerah Sumatera Selatan berhasil menjadi Presiden Direktur dan CEO PT Freeport Indonesia sejak 2006. Lulusan Teknik Tambang Universitas Sriwijaya ini merintis karier dari level terendah di pertambangan emas terbesar di dunia.

Dalam beberapa kesempatan, Armando Mahler kembali ke Sumsel, baik sebagai top leader Freeport maupun pribadi. Khusus kepada pembaca SINDO, Armando menceritakan sedikit pengalamannya selama jauh dari kampung halaman di Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Berikut wawancara khusus wartawan SINDO Sumsel Aina Rumiyati Aziz dan Iwan Setiawan dalam sebuah kesempatan.

Awalnya banyak yang meragukan keputusan Anda bekerja di PT Freeport Indonesia (Papua). Apa yang memantapkan hati Anda untuk mengambil kesempatan itu?

Seperti halnya alumni pertambangan lainnya, setelah lulus, saya mengajukan ke Dinas Pertambangan. Tetapi setelah menunggu selama enam bulan, kok tidak dipanggil-panggil. Nah, saat itu saya membaca di sebuah koran nasional adanya lowongan PT Freeport Indonesia dan saya coba mengirimkan lamaran. Dari situlah teman-teman bilang ngapain pergi ke ujung dunia. Kata mereka, saya cari mati kalau benar berangkat. Tapi itu tidak menyurutkan niat saya, karena saya pikir orang pertambangan larinya harus ke pertambangan.

Bagaimana perasaan Anda saat pertama kali tiba di Papua?

Alhamdulillah, meski saya sarjana pertama dari Sumsel yang memilih ke Papua, banyak pekerja Freeport yang berasal dari Sumsel. Bahkan di sana ada kerukunan keluarga Sriwijaya (KKS), dan itu cukup untuk menghilangkan rasa kangen akan kampung halaman.

Kabarnya, sempat mengeluhkan pekerjaan yang dipilih sendiri, mengapa?

Ya, memang saya akui kondisi itu sempat terjadi. Sebab, bayangan kita dulu kan kerja sarjana tambang pasti wah, terutama yang bekerja di Pertamina. Tapi kondisi sebaliknya justru saya alami saat tiba di Papua. Pikiran saya waktu itu, kok masuk di dunia pertambangan malah jadi kuli. Selama dua tahun, saya harus menjalani training dan digembleng mulai dari pikul alat, angkut eksplosif (bahan peledak), bor, dan macam-macam. Bahkan waktu itu saya sempat terlintas untuk pulang karena nggak kuat. Tapi saya kuatkan hati untuk terus menjalani apa yang sudah saya pilih. Akhirnya saya memahami bahwa dibalik setiap peristiwa ada hikmah. Setelah memasuki tahun ke-5 kita di-assign, baru terasa yang sebenarnya sedang diajarkan trainer selama dua tahun pertama bergabung di Freeport.

Hikmah apa yang bisa diambil selama pelatihan berlangsung?

Saya jadi lebih memahami kondisi suatu pekerjaan dan itu sangat bermanfaat ketika diberikan tanggung jawab membawahi pekerjaan. Jadi, singkatnya saya tidak bisa dibohongi staf, karena tahu apa yang mereka kerjakan. Selain itu, selama dua tahun saya berhasil mendapatkan 70 license (izin) operasional peralatan pertambangan. Kesulitan untuk mendapatkan license itu sangat tinggi karena kita harus training alat dalam waktu sekian jam, selanjutnya dites. Kalau lulus, barulah dikasih license-nya. Sebenarnya, masih banyak peralatan yang harus dimiliki license-nya, tapi jumlah 70 license itu sudah bisa dibilang menguasai teknis operasional semua peralatan pertambangan di Freeport.

Apa pengalaman kerja di Freeport yang mengubah kehidupan Anda?

Setelah dua tahun lebih bekerja dan naik jabatan menjadi supervisor, saya punya tanggung jawab kian berat. Namun, hingga tujuh tahun menjabat, saya tidak juga naik. Saya tahu perusahaan tidak mempromosikan karena menilai tingkah laku saya masih jelek. Saya ini orangnya temperamental. Bahkan saya pernah memukul pegawai karena hampir memukul supervisor. Lantas saya diskorsing selama hampir dua bulan. Selama satu bulan masa skorsing, saya mendapatkan nasihat dari atasan agar mengubah perilaku. Atasan saya itu menasihati bahwa 80% perubahan perilaku ditentukan oleh diri kita sendiri, sedangkan sisanya dari orang lain. Dia menyarankan saya untuk selalu berpikir dulu sebelum bertindak.

Tampaknya Anda tipe orang yang tidak puas atas satu keberhasilan dan ingin terus mempelajari dan menguasai sesuatu yang baru?

Kalau ingin berhasil, ya harus seperti itu. Jangan mudah puas dan terus belajar mengenai sesuatu ilmu dan pengetahuan yang belum kita kuasai. Belajarnya pun tidak harus selalu dengan orang yang levelnya di atas kita. Ini merupakan kelemahan para sarjana kita yang tidak mau belajar dari orang-orang yang berada di bawahnya. Justru saya banyak berguru kepada pegawai nonstaf karena pengalaman mereka lebih banyak dalam menyelesaikan persoalan di lapangan.

Jadi Anda menyinergikan teknologi dan pengalaman?

Di dunia pertambangan, kedua hal itu sangat penting artinya. Teknologi dibutuhkan untuk menentukan titik koordinat kandungan bijih yang akan dieksplorasi. Akan tetapi, pengalaman dan insting saat kita berada di lapangan sedikit berbeda dari panduan yang dikeluarkan komputer. Pernah saat saya magang di Pemala, ada orang yang buta huruf dan tingkat pendidikannya rendah. Tetapi dia tahu posisi nikel yang memiliki grade tinggi. Bahkan, seingat saya dulu justru ada doktor geologi yang belajar dari dia. Jadi, semakin kita dekat dengan alam, alam akan bersahabat dengan kita.

Selama 25 tahun bergabung di Freeport, apa yang paling berkesan selain diangkat menjadi presiden direktur?

Yang paling berkesan adalah ketika dipercaya bekerja di lokasi pertambangan baru Freeport, yaitu di Grasberg pada 1988. Setelah membangun jalan, membersihkan lokasi, dan melakukan drilling and blasting, akhirnya pada 1989 kita sudah bisa operasi penambangan. Meski umurnya sudah mau habis pada 2015 mendatang, saya masih bercita-cita tetap berada di Grasberg hingga ditutup untuk membuat rekor. Saya patut berbangga karena jarang sekali di Indonesia ini ada orang yang mendapat kesempatan menambang mulai dari nol hingga menjadi lokasi tambang kelas dunia.

Lantas bagaimana Anda menjalankan keselarasan antara operasional pertambangan dan lingkungan?

Mungkin masyarakat di luar Papua tidak percaya bahwa Freeport dalam menjalankan usaha pertambangannya sangat memerhatikan lingkungan sekitar. Orang di luar pertambangan menganggap pembukaan tambang Grasberg telah menggunduli hutan di gunung tersebut dan Freeport telah melakukan pembalakan terhadap pepohonan di sekitar tambang. Ini yang tidak pernah terekspos ke masyarakat. Justru keadaan sebaliknya berlaku di Papua. Kita telah menanam lebih kurang 2,5 juta pohon dari berbagai jenis seperti estuari, matoa, sagu, dan bintangor. Selain itu, perlu saya luruskan bahwa di Grasberg tidak ada kayu gelondongan yang ditebang karena memang di gunung itu hanya terdapat rumput dan tanaman pakis gunung. Oleh sebab itu gunung tempat penambangan diberi nama Grasberg yang artinya “gunung rumput” dalam bahasa Belanda.

Selain kegiatan reboisasi itu, untuk apalagi dana Community Development (CD) Freeport dan untuk 2008 ini berapa besarannya?

Untuk 2007, kita keluarkan Rp 971 miliar naik dari 2006 yang hanya Rp 600 miliar. Pada 2008 belum kita rekapitulasi karena masih terus berjalan berbagai pembangunan untuk masyarakat. Soal alokasi itu, dananya untuk program pendidikan, pelayanan kesehatan, pembangunan fasilitas umum, pembangunan ekonomi kerakyatan, lembaga adat, dan lembaga keagamaan. Bahkan kita punya departemen khusus untuk mengurus persoalan penyaluran CD. Saat ini kita sedang selesaikan pembangunan bandar udara di tengah gunung. Tepatnya di daerah Singa untuk mempermudah akses transportasi masyarakat yang tinggal di pegunungan. Selain itu, kita telah dan masih membangun rumah sehat sederhana yang diserahkan kepada masyarakat secara gratis. Meski untuk membangun rumah dengan tipe 54 dan 70, Freeport harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 500 juta per unit.

Rp 500 juta untuk satu unit rumah tipe 70?

Iya, Anda nggak percaya kan? Soalnya perumahan yang kita bangun itu berada di pegunungan yang belum memiliki akses jalan darat yang bisa dilewati truk pengangkut material. Jadinya, material bangunan untuk mendirikan rumah tersebut dibawa dengan helikopter. Sampai sekarang sudah 2.000 unit rumah lebih yang kita bangun. Meski mahal, Freeport tetap berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat terutama yang berada di sekitar tambang.

Meski Freeport memberikan sumbangan besar bagi negara melalui pajak, royalti, dan dividen, mengapa tidak lantas membuat semua pihak puas?

Memang pada 2007 lalu, Freeport membayar kepada pemerintah senilai hampir USD 1,8 miliar atau sekitar Rp17 triliun. Namun memasuki 2008 ini, angka produksi tembaga, emas, dan perak, lebih kecil dibanding 2007.

Bagaimana menyikapi keinginan pembubaran Freeport?

Kita perlu melihatnya secara jernih. Sebab, apakah itu murni dari keinginan masyarakat atau ada keinginan pihak ketiga yang tujuannya mengambil keuntungan. Indonesia ini sangat kaya akan sumber daya alam tapi kemana para pengusaha lokal? Mengapa mereka nggak mau terjun ke bidang pertambangan? Yang lebih kita sesalkan ketika ada pihak yang sudah belanja, kemudian memasak dan siap memakan eh tiba-tiba ada pihak lain menyerobot. Maka itu desakan tersebut kita tanggapi dingin saja.

Bagaimana perasaannya membawahi 20.000 karyawan?

Pegawai kita saat ini sudah hampir 21.000 orang. Lebih kurang 35% di antaranya merupakan karyawan dari lokal Papua. Sementara karyawan PT Freeport hampir mencapai 11.000 orang dan sisanya merupakan karyawan kontrak. (*)

BIODATA

Nama : Armando Mahler
Tempat, Tanggal Lahir : Palembang, 3 Maret 1955
Istri : Fanny Mahler
Anak : Tiga orang putri
Pendidikan : - Teknik Tambang Universitas Sriwijaya lulus 1982
- SMPP 26
- SMP Advent
- SD Xaverius 4

Pekerjaan
> November 2006–sekarang : Presdir dan CEO PT Freeport Indonesia
> Juli 2006–November 2006 : Presdir dan GM PT Freeport Indonesia
> 6 Februari 2006–Juni 2006 : Deputi Presdir PT Freeport Indonesia
> September 2004–Februari 2006 : EVP dan GM PT Freeport Indonesia
> Februari 2002–September 2004 : VP Grasberg Mine Service PT Freeport Indonesia
> July 1983–Januari 2002 : Manager Grasberg Tambang Terbuka PT Freeport Indonesia