14 Mei 2008

Target Sriwijaya Fair Rp 80 M

PALEMBANG (SINDO) – Panitia Sriwijaya Fair 2008 optimistis target transaksi mencapai Rp 80 miliar tercapai.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) Abdul Shobur mengatakan, Pemprov Sumsel bekerja sama dengan sejumlah pihak/lembaga akan menggelar pameran akbar Sriwijaya Fair 2008. Dia menuturkan, pameran disiapkan sebagai agenda akbar di bidang perdagangan, investasi, dan pariwisata Sumsel. Dia menjelaskan, peserta Sriwijaya Fair 2008 akan melibatkan berbagai daerah di Indonesia dan beberapa negara sahabat dengan target transaksi minimal Rp 80 miliar. Menurut dia, hingga kemarin sudah terdaftar sebanyak 200 peserta termasuk perwakilan dari pengusaha lima negara, yaitu India, Saudi Arabia, Kanada, Malaysia, dan Rusia. “Selain ajang pameran berbagai produk unggulan masing-masing daerah, dalam acara itu juga akan diadakan temu investor, seminar, dan promosi pariwisata,” jelas Shobur kemarin.

Dia mengungkapkan, dengan ajang pameran produk unggulan ini, diharapkan posisi perekonomian Sumsel secara umum semakin kuat baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Selain itu, dengan menampilkan potensi unggulan daerah, maka kemungkinan investasi di daerah bisa semakin besar. “Kita harapkan multiplier effects dari kegiatan ini bisa bermanfaat buat masyarakat luas. Bahkan usaha kuliner untuk pengunjung dalam acara ini akan lebih banyak dibanding kegiatan serupa tahun lalu,” ungkapnya.

Project Manager Sriwijaya Fair 2008 dari EO Antheus, Milda mengatakan, hingga kemarin 200 stan yang disediakan terisi penuh. Milda menuturkan, kebanyakan peserta yang hadir membawa hasil kerajinan tangan (handycraft) unggulan dari usaha menengah kecil mikro (UMKM) binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan di daerahnya masing-masing. “Peserta pameran kali ini banyak dari UMKM di Pulau Jawa,” katanya.

Dia menambahkan, selain ajang pameran, pada 16 Mei 2008, selama satu hari akan dilaksanakan business gathering yang membahas mengenai pengembangan usaha kecil dan menengah. “Nanti para pengusaha akan berbagi pengalaman,” tandasnya. (iwan setiawan)

13 Mei 2008

Tenaga Penelitian Tak Merata

PALEMBANG (SINDO) – Penyebaran tenaga dan kualitas penelitian di Indonesia saat ini dinilai kurang merata dan didominasi para peneliti dari Pulau Jawa.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr M Ahkam Subroto mengatakan, berdasarkan proposal penelitian yang masuk ke LIPI dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir, secara kuantitas mengalami peningkatan. Namun, peningkatan kuantitas belum diiringi dengan peningkatan kualitas. Hal itu disebabkan minimnya kemauan para peneliti untuk melakukan riset di bidang ilmu dasar sehingga riset yang dilakukan lebih terfokus pada ilmu terapan. “Padahal, tanpa pengembangan ilmu dasar, sebuah penelitian tidak akan kuat. Oleh karena itu, kita mengapresiasi penelitian para profesor dan doktor yang melakukan penelitian di bidang ilmu dasar sebagai dasar pengembangan ilmu baru,” ujarnya ditemui SINDO pada pembukaan Workshop Metodologi Penelitian dan Pekan Ilmiah Remaja, kemarin.

Ahkam mengungkapkan, dari sekitar 800 proposal penelitian yang masuk setiap tahunnya ke LIPI untuk mengikuti Lomba Karya Ilmiah Remaja, secara kualitas terus mengalami perbaikan. Akan tetapi, dari sekian banyak proposal penelitian, para pelajar dan mahasiswa yang bersekolah di Pulau Jawa lebih dominan dibanding pelajar dan mahasiswa di luar Jawa. “Secara kuantitas sudah hampir berimbang yaitu 60:40 antara penelitian dari Jawa dan luar Jawa. Akan tetapi, kalau bicara kualitas, ya, bisa 80:20 perbandingannya,” tukasnya.

Diakui peneliti berkaca mata itu, kendala yang sangat terlihat dalam sebuah penelitian adalah penulisan proposal dan karya tulis ilmiah yang belum tersusun secara rapi. Dia menuturkan, hal itu merupakan tanggung jawab bagi para guru, dosen, peneliti, dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas penulisan suatu penelitian.

Sebagai wujud tanggung jawab itulah anggota LIPI melakukan kunjungan ke daerah-daerah untuk memberikan standardisasi dalam suatu penelitian. Ahkam menuturkan, dalam kunjungannya LIPI juga memberikan arahan mengenai penyusunan proposal penelitian dan tata cara penulisan karya tulis ilmiah. “Terkadang isi proposal penelitian yang masuk ke kita itu bagus sekali secara isi. Tetapi karena penyajian data dan redaksionalnya amburadul, membuat tim penilai kesulitan dan memvonis tidak meloloskan penelitian tersebut,” terangnya.

Kepala Badan Diklat Provinsi Sumatera Selatan Harun Al Rasyid mengatakan, dengan semakin sering menggelar kegiatan lomba karya ilmiah, diharapkan muncul peneliti-peneliti baru yang dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dia berharap, hasil penelitian tersebut dapat meningkatkan derajat hidup masyarakat secara umum. “Pemerintah akan terus mendukung dan mendorong lahirnya peneliti baru dengan hasil penelitian yang diharapkan bisa bermanfaat untuk masyarakat banyak,” tegasnya.

Harun mengungkapkan, minimnya jumlah peneliti maupun hasil penelitian di Sumsel ini dipengaruhi paradigma bahwa untuk melakukan sebuah penelitian dibutuhkan waktu lama dan biaya besar. Menurutnya, bagi calon peneliti bisa mengajukan proposal kepada pemerintah maupun perusahaan yang berkompeten. ”Di setiap pemda, kan, ada (badan) Litbang-nya. Hubungi mereka dan kalau dinilai layak, maka pemerintah akan mengusahakan bantuan biaya penelitian,” ungkapnya. (iwan setiawan)

Lomba burung kicau


Para juri perlombaan tengah menilai burung murai batu yang bertanding dalam kelas eksekutif. Ratusan burung berbagai jenis seperti murai batu, kenari, kacer, cucakrawa, lovebird, dan cendet mengikuti ajang Pameran dan Lomba Burung Berkicau Gubernur Cup Sumatera Selatan 2008. Acara tersebut digelar di halaman parkir GOR Sriwijaya Minggu 11 Mei 2008.

publikasi : sindo sumsel; selasa 13 mei 2008; halaman 36

12 Mei 2008

Fisik dan Lengkingan Sempurna Kunci Kemenangan

RAJA, PEMENANG LOMBA BURUNG BERKICAU GUBERNUR CUP SUMSEL 2008


Burung murai batu bernama “Raja” berpose bersama pemiliknya Juliansyah.

Berbagai jenis burung bersuara indah, seperti murai batu, kacer, cucakrawa, anis, cendet, dan kenari bertengger di lapangan parkir GOR Sriwijaya Palembang, kemarin. Ratusan burung itu bertarung dalam Pameran dan Lomba Burung Berkicau Gubernur Cup Sumatera Selatan 2008 yang diikuti sekitar 200 peserta. Mereka berasal dari klub anggota Pelestari Burung Indonesia se-Sumatera bagian Selatan.

Dalam perlombaan itu dipertandingkan 20 kelas yang terbagi dalam tiga kategori, yaitu eksekutif, bintang, dan favorit. Kelas eksekutif merupakanyang paling bergengsi dalam ajang ini. Predikat terbaik diraih ”Raja”, seekor burungmurai batu dari Kabupaten Lahat. Kicauannya yangmelengking sempurna mampumenarik perhatian enam juri yang melakukan penilaian terhadap 60 ekor burung yang turun dalam lomba kelas murai batu eksekutif. Selain lengkingan suarayang bulat sempurna, Raja jugamemiliki penampilan fisik yang indah, mulai dari bagian kepala hingga paruhnya yang berwarna hitam mengkilat, sangat serasi dengan warna cokelat di bagian bawah tubuhnya. Juliansyah, empunya Rajatidak menyangka akan menang dalam lomba kali ini, karena menurutnya, persaingan dalam lomba di Palembangcukup berat. Akan tetapi, setelah ditetapkan para juri bahwa Raja merupakanyang terbaik dibanding 59 burung lain, Juliansyah mengaku bangga karena hasil jerih payahnya merawat Raja selama ini membuahkan hasil. ”Ternyata, nama Raja yang saya berikan terbukti membawa hoki. Semoga ke depannya burung ini bisa menjadi penguasa dalam setiap perlombaan yang diikuti,” harap Juliansyah senang usai menerimatrofi.

Juliansyah berbagi cerita, Raja dibeli oleh pamannya, Hairul Aswad, dari sesama pencinta burung di Lahat awal 2007lalu dengan harga Rp3 juta. Namun, karena kesibukan sang paman, perawatan Raja sehari-hari merupakan tanggung jawab Juliansyah. Mahasiswa salah satu universitasswasta di Palembang itu mengatakan, dalam merawatburung kicau jenis murai batu, memang dibutuhkan ketelitian dan perhatian. Selain harus diberi makan secara teratur, burung tersebut harus mendapatkan sinar matahari yang cukup dantidak berlebihan. Setelah itu, murai batu juga harus dimandikan minimal satu hari sekali. ”Sebisa mungkin, sangkar burungnya dibersihkan setiap hari, karena burung jenis murai sangat gampang stres kalau lingkungannya tidak nyaman,”ujarnya berbagi tips.

Selain hal rutin itu, masih ada satu hal yang tidak dilupakannya dalam menjaga kemerduankicau burung tersebut, yaitu memberi makanan telur semut dan jangkrik setiap hari. ”Saya sengaja tidak memberikan burung sayavitamin burung atau obat-obatan lain yang biasa dijual di pasaran. Menurut saya, suplemen seperti itu malah menyebabkan ketergantungan bagi burung, dan kicauannyajuga kurang merdu,”ujarnya.

Sejak dibeli 2007 lalu, Raja telah mengikuti perlombaandi berbagai kota seperti Lahat, Pagaralam, dan Lubuklinggau. Namun, kemenangan di Palembang ini merupakan kemenangan perdana bagi Raja. Oleh sebab itu, Juliansyah berjanji akan lebih merawat Raja dan mengincar gelar-gelar lainnya.Selain merawat Raja, saat ini Juliansyah merawat sekurangnya enam ekor burung milik pamannya yang terdiri dari dua ekor burung muraibatu, dua ekor burung kenari, satu ekor burung kacer, dansatu ekor burung cucakrawa. Untuk satu ekor burung, sekurangnya membutuhkan biaya Rp30 ribu setiap hari. Meski harus mengeluarkan anggaran lebih dari Rp1,8juta setiap bulan, Juliansyah tidak pernah menemukan masalah berarti dalam pendanaan,karena sang paman selalu siap menyokongnya.(iwan setiawan/CR 19)

foto : iwan setiawan

publikasi : sindo sumsel; senin 12 mei 2008; halaman 9

11 Mei 2008

Anggrek Dendrobium Smilliae Raih The Best Species

ASIAN ORCHID EXHIBITION 2008 DI PALEMBANG (2-HABIS)

Kegiatan Asian Orchid Exhibition 2008 juga menilai bunga anggrek yang berasal dari berbagai kalangan hobi, pengusaha, dan pembudidayanya.

Santy S Peeters bersama anggrek Dendrobium Smilliae yang meraih The Best Of Species

Pengumuman anggrek terbaik di tiap kelas yang dilombakan, dilakukan di sela-sela pembukaan Asian Orchid Exhibition 2008 kemarin. Ketua Umum DPP PAI Hj Mufidah Jusuf Kalla yang membuka secara resmi pameran anggrek Asia itu, berkesempatan memberikan secara langsung piala kepada pemilik tanaman anggrek yang ditetapkan juri sebagai yang terbaik. Adapun gelar The Best of Species diraih anggrek DendrobiumSmilliae yang dimiliki Santy S Peeters dari SP Orchids Jakarta, sedangkan untuk kategori The Best of Hybrid, jatuh pada anggrek Cymbidium San Fransisco yang dibawa Florida S Marbun dari Ridho Orchids Bandung.

Santy S Peeters menceritakan, tanaman tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak koleksi anggrekdan tanaman hias yang dimilikinya. Jenis tanaman tersebut didapatkannya dari hasil hunting di wilayah Hutan Merauke, Provinsi Papua. Anggrek jenis ini memili-ki bentuk unik dan berbeda dengan anggrek lainnya. Bunganya yang kecil-kecil saling bersatu sehingga menjadi satu kuntum bunga besar. “Saya beli anggrek ini sekitar awal tahun (2007) lalu. Cukup mahal, waktu itu harganya Rp4,5 juta untuk tiga batang, dan harus jemput ke Papua langsung. Tetapi, karena memang unik dan bagus bentuknya, terus juga telanjur cinta (anggrek), maka mahal itu relatif ya,” ujar Santy ditemuiSINDO di stan SP Orchid kemarin.

Menurut dia, bunga yang dirawatnya itu setelah dinyatakan sebagai yang terbaik pada Asian Orchid Exhibition 2008 di Palembang, langsung ditawar beberapa penggemar anggrek yang hadir di pameran itu. Bahkan, harga yang ditawarkan orang yang menginginkan bunga tersebut cukup besar, berkisar antara Rp3 juta hingga Rp10 juta. Akan tetapi, Santy masih belum melepas bunga yang telah dirawatnya selama setahun lebih itu dengan alasan, masih mencari orang yang benar-benar dianggapnya cocok dengan karakter anggrek tersebut. “Bunga anggrek bukan hanya perlu perawatan seperti bunga-bunga lain yang cukup disiram, diberi pupuk, atau dibersihkan. Anggrek juga butuh perlakuan khusus dari pemiliknya, jadi saya akan lihat dulu siapa yang benar-benar berminat terhadap bunga itu,”tuturnya.

Sementara itu, pemilik anggrek Cymbidium San Fransisco Florida S Marbun mengatakan, kemenangan yang diraih anggrek miliknya tidak diperkirakan sebelumnya. Bunga anggrek dengan warna merah muda sempurna itu telah dikembangkannya sejak 2004 lalu. Menurutnya, anggrek jenis itu merupakan hasil persilangan antara beberapa jenis anggrek Cymbidium sehingga menghasilkan varietas baru. “Pada 2004 lalu, kita datangkan 2.000 batang anggrek jenis Cymbidium dari Australia, lalu kita coba silangkan dengan anggrek lain, salah satu hasilnya yang menang ini,”terang dia.

Florida S Marbun dengan anggrek Cymbidium San Fransisco meraih kategori The Best of Hybrid

Florida mengungkapkan, masih terdapat banyak jenis anggrek di tempat pengembangan bunga eksotis itu di tempatnya. Untuk mengikuti pameran kali ini, dia mengaku hanya membawa sekitar 20 jenis dari 50 jenis anggrek yang dibudidayakannya. Untuk jenisnya, Ridho Orchids miliknya yang berada di Bandung, lebih memfokuskan budi daya anggrek jenis Grammatophyllum, Dipodium, Cymbidium, dan Dendrobium. (iwan setiawan)

foto : iwan setiawan

publikasi : sindo sumsel; minggu 11 mei 2008; halaman 9